3 Alasan Kenapa PBTY Wajib Jadi Agenda Pariwisata Nasional

Dinas Pariwisata DIY mengusulkan PBTY menjadi agenda pariwisata nasional tahun 2017

BERITA JOGJA – Pekan Budaya Tioghoa Yogyakarta (PBTY) digelar Kamis (18/2) lusa sampai Senin (22/2) di Kampung Ketandan Jogja. Perayaan PBTY lusa jadi kesebelas kalinya digelar di Jogja. Tiap tahun PBTY memang selalu ramai dikunjungi warga ataupun wisatawan lokal maupun mancanegara. Hal itu juga yang membuat Dinas Pariwisata DIY mengusulkan PBTY menjadi agenda pariwisata nasional.

Setidaknya ada tiga alasan yang cukup kuat mengapa PBTY memang pantas diajukan lalu disetujui menjadi agenda pariwisata nasional ke Kementrian Wisata.

Wayang Cina Jawa di PBTY 2015

Wayag Potehi (Istimewa)

Digelar 5 Hari

PBTY di Jogja tidak kalah dengan daerah lain seperti Pematang Siantar, Solo, Bogor, Semarang, atau Karimun yang punya festival serupa. Bahkan PBTY punya kelebihan dibanding yang lainnya yaitu digelar selama lima hari. Hal ini memungkinkan wisatawan asing santai menikmati PBTY di Jogja tanpa harus berburu waktu sehari penuh.

Kreatif

Kreativitas PBTY muncul tiap tahun. Setelah kepala naga raksasa tahun lalu, di malam puncak PBTY 21 Februari nanti bakal ada liong sepanjang 169,5 meter yang diangkat 250 orang. Liong ini juga tercatat sebagai yang terpanjang di Indonesia.

Ada juga banyak perlombaan dalam PBTY di Kampung Ketandan. Ada lomba karaoke, mewarnai, foto, dan lain sebagainya. Ada juga berbagai macam pertunjukan kebudayaan seperti Wayang Potehi atau pameran masakan.

Memperkuat Akulturasi Budaya

PBTY menunjukkan makin mesranya akulturasi dua budaya di Jogja: Tionghoa dan Jawa. Contohnya ada karnaval budaya dari TPA Abu Bakar Ali sampai Alun-ALun Utara Jogja. Dalam karnaval akan berpadu dua kebudayaan yang bakal menarik disaksikan.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar