Penyiar radio jadul. (Dokumen Aldi Wirya/Erwin Noviandi)

5 Profesi Sampingan Mahasiswa Jogja 90-an yang Bikin Cewek Baper

Oleh Maya Eka,

Lima profesi sambilan mahasiswa ini bikin pesona enggak ada habisnya di mata cewek.

BERITA JOGJA – Jadi mahasiswa sambil kerja itu keren. Kalau rajin nabung, uang kuliah bisa dibayar sendiri. Bebas mau jajan apa saja karena uang yang dipakai hasil keringat sendiri. Keuntungan lainnya adalah gampang dapat cewek.

Di tahun 90-an dulu juga begitu. Ada profesi-profesi sampingan mahasiswa yang terlihat keren banget sampai bikin cewek baper. Contohnya 5 berikut ini:

Penyiar radio jadul. (Dokumen Aldi Wirya/Erwin Noviandi)

Penyiar radio jadul. (Dokumen Aldi Wirya/Erwin Noviandi)

Penyiar Radio

Radio jadi salah satu hiburan termurah sekaligus terkece buat remaja 90-an. Anak muda zaman dulu ada yang langsung hapal sama suara si penyiar radio. Bahkan ada yang rela nunggu subuh buat dengerin suara penyiar favoritnya.

Banyak mahasiswa tahun 90-an yang punya sampingan jadi penyiar radio. Biasanya dia beken di kampus dan di mata cewek tentunya.Soalnya penyiar radio pasti tahu banget perkembangan musik lokal dan internasional juga berwawasan luas. Siapa coba yang enggak kesengsem dengan cowok model begitu.

“Bisa pacaran sama penyiar radio dulu itu bangga banget rasanya. Jadi ikutan kece dan terkenal,” kenang Martha Hanifa, seorang PR Hotel di bilangan Prawirotaman.

Pemain Basket

Tahun 90-an hampir di setiap Kota di Indonesia sedang gandrung olahraga basket. Pemicunya Michael Jordan dengan Chicago Bulls-nya dan timnas basket Amerika di olimpiade 90 yang bertabur bintang. Ada Larry Bird, Magic Johnson, Scottie Pippen, Jordan, dan banyak lainnya.

Di Indonesia, kemunculan Liga Kobatama makin membuat gandrung. Mereka yang jadi pemain klub basket Jogja dan berjuang masuk Kobatama gampang banget melelehkan hati cewek-cewek. Soalnya waktu itu memang cowok yang bisa basket masih dipandang keren banget.

Wartawan Majalah

Lupus. Gaya tokoh fiktif dalam novel Hilman dan Boim itu jadi salah satu trensetter bagi mahasiswa era 90-an, termasuk Jogja. Selain gaya rambut ala Duran-Duran dan style fashion-nya, pekerjaan sambilan Lupus jadi wartawan majalah mingguan menginspirasi banyak anak muda.

Mereka yang nyambi jadi wartawan, terutama majalah mingguan banyak dikagumi di kampus. Bukan cuma cewek-cewek, tapi juga dosen.

Musisi

Jogja penuh panggung festival di era 90-an. Panggung festival setiap genre banyak yang bermunculan dan melahirkan musisi-musisi tjiamik. Apalagi band yang sudah punya nama. Tiap pensi, selalu banyak yang neriakin nama musisi di atas panggung.

“Tapi kudu protektif banget kalau punya cowok musisi zaman segitu. Soalnya habis turun panggung banyak cewek yang minta kenalan,” kenang Astri Dewi, apoteker salah satu apotek di bilangan Gejayan.

Asisten Dosen

Jadi asisten dosen tahun 90-an itu sulitnya bukan main. Soalnya bukan sekadar modal IPK doang. Meski IPK tinggi tapi otak enggak cerdas-cerdas amat bakal susah jadi asisten dosen. Kudu sempurna pokoknya: IPK bagus juga cerdas. Pekerjaan sampingan yang digaji ini juga melelehkan hati banyak cewek di kampus.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar