FKY

7 Juli 1989-7 Juli 2016: Selamat Ulang Tahun, FKY

Oleh Jatu Raya,

FKY, sejak awal kemunculannya sudah jadi semacam nota pengingat bagi anak muda tentang kekayaan budaya nusantara

BERITA JOGJA – Kamis (7/7) hari ini adalah momen bersejarah bagi Jogja. 27 tahun lalu, tepatnya 7 Juli 1989, Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) hadir dan menemani masyarakat pecinta seni dan budaya di Jogja hingga kini. Beragam kesenian tradisional dengan sentuhan modern tiap tahunnya asyik jadi tempat nongkrong anak-anak muda. FKY, sejak saat itu sudah jadi semacam nota pengingat bagi anak muda tentang kekayaan budaya nusantara, khususnya Jogja.

FKY

Poster FKY tahun 2015 lalu (Dok Istimewa)

Menilik awal berdirinya FKY cukup unik sungging. Ketika awal berdiri, banyak nyiyir bahwa FKY latah dan aji mumpung. Soalnya di waktu yang sama, Suharto dengan bingar dukungan warga tengah meresmikan Monumen Jogja Kembali. Mumpung ramai, maka dibuatlah FKY, kata mereka yang nyinyir saat itu. Padahal kemunculan FKY saat itu jauh dari aji mumpung dan sudah dimasak sejak lama oleh tokoh-tokoh kebudayaan Jogja, baik di dalam maupun di luar sistem (baca: Pemerintah daerah).

Majalah Citra Yogya edisi Juli-Agustus tahun 1989 tegas memaparkan sejarah berdirinya festival yang kini selalu ditunggu ini. Lewat artikel berjudul “FKY: Sebuah Momentum” diceritakan kalau FKY mulanya adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dewan Kesenian Yogyakarta. FKY diketuai Bakdi Soeminto yang melakukan penelitian satu minggu di Pekan Kesenian Bali.

Hal ini mendorong Bakdi Soeminto menyimpulkan untuk mengambil momentum di Jogja untuk menggelar Pekan Kesenian juga. Perbedaan antara FKY dengan festival kesenian Bali-waktu itu- terletak dalam prosesinya. FKY menggunakan kirab seni sebagai awal diselenggarakannya sebuah perayaan, sedangkan prosesi inti dalam perayaan pekan kesenian Bali menggunakan Parade Kebyar sebagai awal diselenggarakan sebuah perayaan.

Ide tersebut menjadi sebuah pembahasan yang mulai didanai dari dana Pemerintah Provinsi Jogjakarta. Dari dana inilah, Bakdi Soeminto memberdayakan kelompok-kelompok kesenian yang berada di Jogja dan sepakat melakukan kegiatan yang sama dengan pekan kesenian Bali.

Gambaran itu jelas menunjukkan bahwa FKY tidak aji mumpung karena tidak dibuat dalam waktu singkat yang seadanya namun lewat proses penelitian lebih dahulu dan pemasakannya sudah sejak 1970. Hanya saja baru bisa kesampaian dan makin matang pada 1989.

Jumat 7 Juli 1989, FKY dibuka dengan diawali arak-arakan pawai seni pasukan lombok abang,pasukan manten dan marching band dari IKIP Jogja (sekarang UNY). Arak-arakan melintasi Malioboro menuju Gedung Agung, tempat upacara pembukaan resmi berlangsung. Acara pembukaan pun diisi dengan pidato sambutan dan pemukulan gong oleh Sri Paku Alam VIII serta peresmian dan pelepasan balon oleh Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X dilanjutkan ke alun-alun utara yang sudah disediakan panggung terbuka dan pagelaran teater Kraton Jogja.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar