Amanat Paku Alam IX pada Warga Jogja Soal Sekaten

Oleh Jatu Raya,

Paku Alam IX berpesan agar warga Jogja tidak lupa akan makna filosofis Sekaten.

BERITA JOGJA – Sekaten identik dengan Paku Alam IX. Dalam beberapa kali pembukaan pesta rakyat Jogja itu, Paku Alam beberapa kali hadir dan memberikan sambutan juga wejangan terhadap pelaku industri kreatif Sekaten dan masyarakat. Namun tampaknya Sekaten 2014 jadi kali terakhir Paku Alam IX menyapa dan memberikan wejangan ke rakyatnya.

Sekaten

Paku Alam IX saat membuka Sekaten tahun 2014 lalu

Saat membuka perayaan Sekaten tahun lalu, Paku Alam IX meminta pada warga agar tidak melupakan makna filosofis Sekaten. Sebab, sekali saja lupa, maka Sekaten akan ada tanpa pemaknaan dan sekadar hiburan biasa. Tahun lalu Paku Alam IX berpesan agar warga selalu mengingat bahwa Sekaten bukan sekadar pasar malam biasa menjelang tahun baru. Sekaten, ujarnya, adalah sebuah perayaan yang penuh makna religi, ekonomi, dan kebudayaan.

“Pasar Sekaten merupakan pertemuan tiga nilai di Jogja. Ada nilai religius, untuk memeringati kelahiran Nabi Muhammad. Ada nilai kebudayaan, untuk terus melestarikan warisan dan tradisi, dan terakhir adalah nilai ekonomi kerakyatan,” pesannya.

Ekonomi yang dimaksud ditujukan pada sejumlah stan di Sekaten yang berisi produk kerajinan, makanan, sejumlah pengusaha kecil di Kota Jogja. Ada pengusaha gorengan, makanan kecil, sandal, dan baju bekas dan lain sebagainya. “Sekaten tidak melulu bersifat hura-hura, namun juga mengangkat pengusaha kecil tersebut dalam nilai kebudayaan yang setara. Sekaten kan tidak hanya ada permainan atau ketangkasannya saja, tapi banyak juga pedagang kecil yang ada di dalamnya,” pesan Paku Alam IX.

Halaman

1 2

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar

  • Totok Haryono

    Pasar malam sekaten tahun 2015 adalah kegiatan yang telah melanggar SK Gubernur tentang larangan berjualan di Alun – Alun Utara, kalau sekaten kami mendukung karena sebagai kegiatan budaya dan religi, Pemerintah Jogja tidak peka terhadap pedagang yang telah bertahun – tahun berjualan di alun – alun utara, apa bedanya Pasar Malam dengan Pedagang musiman di Alun – Alun Utara ? apa pelanggaran SK Gubernur tidak ada sanksi?, untuk apa Gubernur mengeluarkan SK ? katanya sekarang tidak ada sewa menyewa tanah, tapi coba buktikan, tanyakan pada pelaku yang bukan orang jogja jualan di Alun – Alun Utara dalam Pasar Malam harus keluar dana berapa? entah istilah sewa tenda, atau lainnya. semoga pemerintah melihat dan mencermati tulisan ini.