Kedung Darma Romansa

Antologi Puisi Si Raja Panggung Kedung Darman Romansa

BERITA JOGJA – Bincang-bincang hangat malam itu diawali oleh An Ismanto yang menyoroti corak lokalitas penyair dalam setiap puisi-puisinya. Kritikus sekaligus sejarahwan itu mempertanyakan puisi milik Kedung yang tidak menonjolkan suatu identitas tertentu. Padahal menurutnya, lokalitas adalah sarana yang menarik untuk diangkat. Ya, malam itu, Rabu (25/2), di Ruang Seminar TBY sedang berlangsung peluncuran antologi […]

BERITA JOGJA – Bincang-bincang hangat malam itu diawali oleh An Ismanto yang menyoroti corak lokalitas penyair dalam setiap puisi-puisinya. Kritikus sekaligus sejarahwan itu mempertanyakan puisi milik Kedung yang tidak menonjolkan suatu identitas tertentu. Padahal menurutnya, lokalitas adalah sarana yang menarik untuk diangkat.

Kedung Darma Romansa

Aksi Kedung ketika membaca puisi,Rabu (25/2) di TBY (Foto:Aditya AC)

Ya, malam itu, Rabu (25/2), di Ruang Seminar TBY sedang berlangsung peluncuran antologi puisi karya Kedung Darma Romansa yang bertajuk Uterus. Sebuah diskusi yang diadakan untuk mengapresiasi sekaligus mengkritisi ke-40 puisi dalam Uterus, milik penyair asal Indramayu tersebut.

Seperti judulnya, Uterus yang secara harafiah berarti rahim ingin merepresentasikan sebuah tempat untuk memproses seorang manusia sebelum ia dilahirkan ke dunia.

“Bisa dibilang, tidak banyak kebaruan dalam kumpulan puisi ini. Gaya bertutur secara lisan terasa kuat namun tidak banyak menyisakan ruang untuk pembaca,” Ujar Si Mbah, sapaan akrab An Ismanto.

Pendapat Si Mbah kemudian ditimpali oleh Komang Ira Puspitaningsih. Penyair asal Pulau Dewata itu menyebut puisi-puisi dalam Uterus memang cukup mudah dicerna maknanya, bahkan terkesan terlalu sederhana.

“Puisi milik Kedung jika dibaca di kamar sendirian, tentu akan memiliki kesan yang berbeda dibandingkan saat puisi tersebut dipentaskan di atas panggung atau dijadikan musikalisasi puisi.”

Secara tidak langsung Si Mbah dan Ira juga mengamini bahwa penyampaian secara lisan dengan pementasan adalah letak kelebihan Uterus yang sebenarnya. Kedung sejatinya adalah orang panggung. Selain aktif berteater, ia juga telah membintangi sejumlah film layar lebar.

Peluncuran Uterus ini, sekaligus menjadi kado manis bagi Kedung karena bertepatan dengan hari kelahirannya. Tepat diusianya yang ke-31, puisi-puisi yang dibuatnya sejak tahun 2005 hingga 2015 akhirnya bisa diterbitkan.

Dipenghujung acara, Renvile Siagian dan Untung Basuki menutup diskusi dengan mendendangkan sebuah puisi yang berjudul Perempuan yang Lupa Menutup Lubangnya. Masih dari antologi Uterus.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar