Apakah Musik Indonesia Perlu Harmoko?

Apakah Musik Indonesia Perlu Sosok Harmoko?

Dampak dari pembredelan ini-salah satunya adalah kemunculan band-band cadas dengan musik yang menghentak. Sebut saja Power Metal, PAS Band, dan lain sebagainya

BERITA JOGJA – Ony, salah seorang tukang cukur di Barber Shop bilangan Jalan Affandi tiba-tiba berhenti memotong rambut saya yang sudah hampir mirip Adam Levine. Ia kemudian mematikan radio yang berada tak jauh dari meja cukur.

“Enggak ada lagi apa lagu berkualitas di Indonesia ini. Lagu cengeng mulu adanya, sebal gue,” gerutunya lalu kembali mengurusi rambut saya.

Sepakat, Kak. Jawab saya. Sambil mengelus-elus rambut saya, dia melanjutkan gerutunya. “Musik pagi itu harus nge-beat, lha ini malah muter yang enggak-enggak. Musik cengeng,” katanya.

Apakah Musik Indonesia Perlu Harmoko?

Harmoko (Dokumen Tempo)

Memang pagi jelang siang itu radio di barber shop miliknya kecantol tune radio di Jogja lagi muter lagu cengeng dari sebuah band yang kerap berpose metal saat pemotretan. Pop melayu istilah gaulnya yang sudah menginvasi Industri musik Indonesia sejak lama. Tampaknya Ony satu kepala dengan saya soal pemilihan musik: Nge-beat.

Saat Ony mengeramas rambut saya, tiba-tiba sosok Harmoko muncul dalam ingatan. Saya jadi teringat satu kebijakan kontroversial yang pernah dibuatnya tahun 80an. Sosok Menteri Penerangan dan Ketua MPR yang juga pengusaha media itu pernah membredel lagu cengeng di TVRI dan radio.

Industri musik di Indonesia saat itu hampir sama dengan kekinian. Banyak musisi-musisi pop dan pencipta lagu pop melankolis lahir dan menghiasi layar kaca. Karena pada waktu itu hanya ada TVRI, maka mereka beramai-ramai tampil di stasiun televisi milik pemerintah itu.

Harmoko jengah dengan membesarnya industri pop melankolis. Lagu -lagu cengeng dianggapnya merusak mental generasi muda yang menjadi bagian dari pembangunan. Secepat kilat Harmoko langsung melarang TVRI dan radio menayangkan atau memutar lagu-lagu cengeng. Sejumlah penyanyi yang tengah berada di puncak popularitas saat itu seperti Nia Daniati, Betharia Sonata, dan Ratih Purwasih kecewa berat.

“Saya enggak suka lagu cengeng, bangsa ini sedang membangun masa lagunya seperti itu,” tegas Harmoko waktu itu.

Dampak dari pembredelan ini-salah satunya adalah kemunculan band-band cadas dengan musik yang menghentak. Sebut saja Power Metal, PAS Band, dan lain sebagainya.

Kalau boleh jujur, sebagai pecinta musik Rock, terlebih Funk Rock, saya rindu akan sosok Harmoko. Apalagi di era kekinian dipenuhi dengan musisi-musisi yang menurut saya tidak mampu membuat lagu, skill di bawah rata-rata, rapi, harum, wangi,Autotone, tapi (maaf) lebih pantas masuk keranjang sampah.

Namun, jika memang diyakini bahwa musik adalah seni dan merupakan bentuk kebebasan berkesenian, kita tak perlu lagi Harmoko dengan pembredelannya. Toh tiap orang pada dasarnya bebas memilih mendengarkan jenis musik apapun alasannya.

Yang kita butuhkan saat ini adalah musisi yang berkesadaran. Musisi yang tahu diri. Bikin musik, sekalipun itu cengeng mendayu sampai bertangisan jangan cuma memikirkan keuntungan di RBT atau peluang masuk TV saja. Pun produser jangan seenak udel atau selempeng jidat mengatur musisi membuat musiknya sendiri.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar

  • Arul

    Sepakat sama tulisannya mas Cahyo! Pop kampung masuk keranjang sampah aza!