ArtJog 9: Menerobos Celah Sempit Perupaan dalam Karya Dipo Andy

Oleh Jatu Raya,

Kedalaman perasaan Dipo Andy terlihat dalam dua karyanya di Art Jog 9.

Menikmati lukisan Dipo Andy di Art Jog (Foto: Dokumen Dipo)

Menikmati lukisan Dipo Andy di Art Jog (Foto: Dokumen Dipo)

BERITA JOGJA – Dipo Andy adalah perupa jenius dalam dunia seni lukis kontemporer. Karyanya selalu memberi pengalaman samar yang perlahan tuntas ketika dikembalikan ke perasaan masing-masing. Tengok saja pameran tunggalnya bertajuk “Kundalini Bumi” yang menyajikan “cara” pandang keduniaannya.

Menggabungkan teknik cetak digital, seni lukis, dan foto satelit, karya dalam pameran tunggalnya menyamarkan spritualitas yang berkelindan menerobos perasaan para pecinta seni.

Laiknya Kundalini Bumi, Dipo kembali mencurahkan cara pandang dan pengalamannya melalui dua karya di Art Jog 9. Berbeda dengan Kundalini Bumi yang membincang narasi besar dunia, di Art Jog 9 ini dua karyanya jauh sederhana namun punya kedalaman sama. Dua lukisan menyajikan garis dan bidang dengan dominasi warna merah dan hijau tosca.

Lukisan hijau tosca diberinya judul “Berbuai Terlayang” sedangkan yang didominasi merah berjudul “Merah, Basah Terbawa Jua”. Keduanya berdata sama: Dilukis di atas kanvas berukuran 200×250 cm berbahan acrylic.

“Saya mencoba memanfaatkan media dan bahan konvensional ini dengan mengacu pada karakter tiap-tiap bahan. Misalnya memainkan karakter kain dengan melipatnya untuk memunculkan garis ketika dibubuhi warna menimbulkan tekstur semu tampak seperti pakaian belel,” cerita Dipo.

Karyanya dilukis dalam posisi kanvas di atas lantai tanpa direntangkan terlebih dulu ke atas spanram. Seperti halnya membuat drawing di atas kertas yang menggunakan papan landasan, ia menggunakan lantai studio sebagai landasan. Di akhir proses, ia membubuhkan warna hitam sehingga muncul kesan seperti mencetak jejak lantai studio dan mencetak lipatan kain.

"Merah, Basah Terbawa Jua" dilihat lebih dekat. (Foto: Cahyo PE)

“Merah, Basah Terbawa Jua” dilihat lebih dekat. (Foto: Cahyo PE)

“Karya ini jauh dari akrobat, tanpa ingin membuatnya terlihat lebih indah, tanpa ingin menghias agar lebih artistik. Walaupun sebenarnya unsur-unsur perupaan yang sudah menyatu dalam kepala saya tertuang menjadi sebuah komposisi seni lukis,” beber Dipo.

Ada emosi yang tersaji dalam kedua karya Dipo di Art Jog 9. Keduanya terkesan sangat intim dengan perasaan dan emosi yang berkecamuk dalam diri Dipo. Tak mudah dipahami memang, namun melihat karyanya ini harus mengedepankan perasaan ketimbang akal. Pada karya ini, katanya, ia melepaskan diri dari narasi dunia luar, berbalik menghayati diri pribadi, dan kembali ke pangkal sejati dalam seni lukis: Menyelaraskan garis, bidang, ruang, dan warna dengan teknik yang sederhana.

“Kemudian berserah pada intuisi seketika. Saya berusaha menyelipkan sejumput penggambaran remeh-temeh sebagai upaya menerobos celah sempit perupaan dalam dunia seni lukis yang sangat sesak. Penjelajahan pada material konvensional ini juga sebagai upaya penggalian terus menerus pada keberadaan seni lukis yang kini sering didengungkan kematiannya oleh sebagian kalangan,” jelas Dipo.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar