Atribut partai (Dk Istimewa)

Awal Mula Konvoi Motor Bising di Jogja Saat Kampanye

Konvoi motor zaman dulu digunakan anak muda sebagai perlawanan terhadap peraturan pemerintah Orba.

BERITA JOGJA – Hingga awal tahun 70-an, Jogja dikenal sebagai Kota Sepeda. Sangat jarang warga yang menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi. Jalanan waktu itu dipenuhi bus, angkot,dan sepeda. Baru di awal 1980-an mulai banyak yang menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi sehari-hari. Hal ini pula melatari munculnya gerakan konvoi saat Pemilihan Umum (Pemilu).

Atribut partai (Dk Istimewa)

Atribut partai (Dk Istimewa)

Tepatnya tahun 1982, sebagaimana dikisahkan John Pamberton dalam disertasinya berjudul The Appearance of Order tahun 1989, sebagian warga Jogja kala itu muak dengan banyaknya peraturan dari pemerintah pusat yang diteruskan di daerah. Salah satunya adalah larangan warga untuk gumrubyug di luar tradisi Kraton. Tingkah laku warga diatur pemerintah berdalih keamanan dan kenyamanan yang bersumbu pada pancasila.

Namun, bukan warga Jogja namanya kalau tidak kreatif dalam melakukan perlawanan. Mulai banyaknya warga yang menggunakan sepeda motor dimanfaatkan untuk menggelar konvoi motor saat kampanye. Mereka menggunakan motor dengan knalpot modifikasi dan bunyi klakson berirama di sejumlah jalan. Pamberton menilai peristiwa ini adalah rekayasa sosial yang dilakukan warga untuk membuat para pejabat terancam kedudukannya karena ulah mereka.

Beda dengan sekarang di mana banyak protes konvoi motor berisik saat kampanye, saat itu mereka mendapat banyak simpati dari warga yang menonton. Dari catatan Budi Susanto SJ dalam Peristiwa Yogya 1992, bahkan warga yang melihat konvoi motor berisik banyak yang ikut barisan. Sementara warga yang menonton melambai-lambaikan tangan tanpa dibayar. Tentu saja mereka yang berkonvoi motor berisik ini bukan simpatisan Golkar yang saat itu doyan berkampanye lewat teks dan imbauan pacasilais.

Pawai ini juga jadi kesempatan bagi perempuan untuk menunjukkan kesetaraan dengan laki-laki. Orba, adalah rezim yang doyan menghegemoni perempuan menjadi nomor dua di masyarakat. Perempuan Jogja tak bisa tinggal diam. Sebagian dari mereka ikut dalam pawai dan tidak malu-malu menampilkan identitasnya sebagai perlawanan terhadap hegemoni itu.

Uniknya, dalam pawai motor bising pertama kalinya itu, baik PPP dan PDI menyampaikan rasa terima kasih dan permintaan maaf melalui surat kabar lokal atas kebisingan yang mereka lakukan dengan bahasa khas mereka. Sementara itu, Golkar, juga melakukan hal yang sama dengan-tentu saja-eufimis khas mereka.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar