Kisah Sultan HB IX

Bagaimana Seharusnya Anak Muda Jogja Merayakan SO 1 Maret?

Oleh Jatu Raya,

Jawaban bagaimana seharusnya merayakan SO 1 Maret di tengah banyaknya perayaan simbolik yang bermunculan di sana-sini.

Kisah Sultan HB IX

Sultan HB IX mengundang Sukarno untuk memindahkan Ibu Kota ke Jogja. (Dok Istimewa)

BERITA JOGJA – Jawabnya gampang. Anak muda Jogja kudu menghargai kemerdekaan individu dan kesetaraan dalam bermasyarakat. Anak muda juga kudu menyingkirkan hasrat gila hormat yang melahirkan delusi kekuasaan. Cukup itu saja sebenarnya jawaban bagaimana seharusnya merayakan SO 1 Maret di tengah banyaknya perayaan simbolik yang bermunculan di sana-sini.

Anak muda Jogja enggak perlu jadi sosok sentimentil naif ketika turut merayakan SO 1 Maret. Upload foto atau renggiat peringatan SO 1 Maret bercaption “terima kasih pahlawan” atau “menelusuri jejak pertempuran di Jogja” dan lain sebagainya tapi setelah itu kembali menunjukkan wajah bopeng dengan merampas kemerdekaan atau kebebasan orang lain.

Esensi SO 1 Maret 1949 adalah memperjuangkan kemerdekaan negara, kebebasan individu, dan rasa nyaman setara dengan manusia lainnya. Pertempuran di Jogja dengan Belanda yang dilakukan TNI bersama laskar dan rakyat Jogja pada 1949 adalah upaya mempertahankan dan menciptakan kuasa merdeka pada warga negara.

Sri Sultan HB IX tahu betul soal itu. Raja Agung Kraton Jogja itu enggak peduli dengan cerita sejarah yang diyakini sejarawan dibelokkan tentang siapa inisiator serangan. Bagi Sultan, bukan itu tak penting. Persetan dengan siapa aktornya meski banyak bukti valid bahwa dirinya yang menjadi inisiator serangan. Selama rakyatnya tak lagi jadi pesakitan kolonial lalu tetap merdeka sebagai manusia, gelar itu adalah nomor paling buncit.

Sayangnya, peringatan event SO 1 Maret kerap gagal menyampaikan esensi itu. Para pejuang yang bertempur mewariskan nikmatnya kemerdekaan, kebebasan, dan kesetaraan pada generasi selanjutnya  melihat pemandangan yang memilukan dalam realita kekinian di Jogja.

Banyak peristiwa yang bisa jadi contoh bagaimana kemerdekaan individu dan kelompok yang jadi warisan SO 1 Maret 1949 tidak tampak di Jogja dalam beberapa tahun terkahir. Misalnya kelompok agama tertentu yang mengafirkan mereka yang punya kepercayaan minoritas. Ada juga LGBT yang dituduh lebih rendah dari binatang karena perbedaan orientasi seksual. Kegiatan ibadah yang berbeda dengan mayoritas dibubarkan paksa. Menghasut dan menyebarkan kebencian lalu memaksakan apa yang benar pada kaum minoritas.  Nonton film bareng bertema minor untuk tujuan pendidikan kerap digelar di depan ancaman parang.

Contoh di atas masih yang terlihat di permukaan saja. Situasi sekarang persis ketika Kolonial menguasai Indonesia dulu. Kemerdekaan berserikat dan berkumpul selalu berada di bawah intel atau pengamatan tentara kolonial. Rakyat tak boleh menatap mata orang Belanda karena dianggap lebih hina dan bukan kelasnya bicara dengan mereka.

Anak muda Jogja jangan cuma numpang beken dengan ikut lalu khidmat memeringati seremoni peringatan saja. Jogja membutuhkan anak muda yang mau menghargai perbedaan, kemerdekaan, dan tak pandang kelas sosial ketika bermasyarakat laiknya warisan para pejuang SO 1 Maret yang gugur saat membebaskan tirani dari Belanda.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar