Banjir Dampak Kalapnya Pembangunan di Jogja?

Oleh Jatu Raya,

BERITA JOGJA – Hujan deras yang mengguyur Jogjakarta, Rabu (22/4) malam membuat sejumlah sungai meluap. Sungai code menjadi yang terparah. 1401 jiwa mengungsi akibat banjir yang mencapai satu meter. “Kita tidak menyangka akan seperti ini. Airnya deras dan tingginya hampir mencapai satu meter. Kita juga kaget karena sejak 1994, banjir seperti ini tidak pernah terjadi […]

BERITA JOGJA – Hujan deras yang mengguyur Jogjakarta, Rabu (22/4) malam membuat sejumlah sungai meluap. Sungai code menjadi yang terparah. 1401 jiwa mengungsi akibat banjir yang mencapai satu meter.

Jogja banjir

Seorang warga Klitren di tengah genangan air usai hujan deras yang mengguyur Jogja, Rabu (22/4) malam. (Foto: Kresna)

“Kita tidak menyangka akan seperti ini. Airnya deras dan tingginya hampir mencapai satu meter. Kita juga kaget karena sejak 1994, banjir seperti ini tidak pernah terjadi lagi,” cerita Rohim warga Bintaran Kidul.

Begitu juga dengan Sungai Gajah Wong. Warga Pringgondani misalnya, juga harus mengungsi akibat jebolnya tembok swadaya yang mereka bangun akibat luapan sungai. Belum lagi timbulnya genangan tinggi di sejumlah ruas jalan akibat meluapnya drainese.

Adanya luapan sungai yang ditambah genangan air tinggi di sejumlah tempat diduga karena pembangunan yang kalap mata, khususnya hotel dan apartemen. Hingga bulan April, tercatat sudah berdirian sekitar 575 hotel di Jogjakarta. (Baca: April 2015, Jogja Dipenuhi 575 Hotel)

“Harusnya pembangunan mengubah cara pandang. Bukan lagi memikirkan aspek ekonomi atau budaya semata, melainkan juga lingkungan. Sekarang mana ada pembangunan berbasis lingkungan,” kritik Heri Widodo, Koordinator Walhi Jogja.

Ia menambahkan bahwa selama ini persoalan lingkungan di Jogjakarta hanya diserahkan kepada Dinas tertentu saja. Misalkan saja pada BLH. Padahal untuk menunju pembangunan yang berbasis lingkungan harus ada koordinasi dan irisan antar instansi.

“Kalau memang ada niatan pembangunan berbasis lingkungan, harus ada koordinasi dan jadi tanggung jawab bersama, jangan hanya BLH semata dan jangan kalap,” tegasnya.

Terpisah, Dyah Widyastuti, pakar tata ruang kota UGM menyayangkan adanya pembangunan yang tak diimbangi pembuatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) besar untuk menampung air hujan. Padahal dengan adanya banyak RTH, dampak banjir bisa diminimaisir.

“RTH di Jogja masih bersifat riasan saja. Fungsi ekologinya tidak jalan. Di bagian hulu, RTH alami juga sudah mulai hilang. Mulai sekarang harus diperhatikan RTH di Jogja yang berfungsi secara ekologis,” imbaunya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar