Banyak Kepalsuan, Medsos Bikin Pasangan Rawan Selingkuh

Kecenderungan berselingkuh di medsos tidak bisa ditentukan dari jenis kelamin.

BERITA JOGJA – Media sosial (medsos) bukan lagi sekadar gaya hidup. Sebaliknya menggunakan medsos sudah jadi kebutuhan primer dalam kehidupan bermasyarakat seiring majunya teknologi. Namun, dalam realita kekinian, pengguna media sosial sebagian besar tampil penuh kepalsuan dan kepura-puraan.

Ilustrasi selingkuh (Dok.Istimewa)

Ilustrasi selingkuh (Dok.Istimewa)

Psikolog Ega Asnatasia Maharani misalnya, menganalisis bahwa dalam medsos pengguna cenderung menampilkan sisi yang sudah diedit sedemikian rupa. Yang ingin perlihatkan adalah yang baik-baik saja. Inilah yang menurutnya kerap memicu cemburu yang berujung perselingkuhan. Ini berawal dari pasangan yang membandingkan pasangannya dengan pengguna medsos miliknya.

“Kecemburuan irrasional ini juga potensial memicu konflik rumah tangga. Intinya memang banyak hal dari medsos yang bisa menjadi sumber masalah dalam sebuah hubungan,” ungkapnya.

Ega juga mengatakan, kecenderungan memulai selingkuh di medsos tidak bisa ditentukan dari jenis kelamin. Laki-laki atau perempuan menurutnya sama saja. Indikasinya adalah statistik menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan jumlah laki-laki dan perempuan pengguna sosmed.

“Alasan menggunakan sosmed juga tidak jauh beda, artinya semua rentan menggunakan sosmed mencari pasangan,” jelasnya.

Kondisi ini bisa marak, menurutnya juga karena Indonesia negara yang belum bijak memanfaatkan sosmed. “Banyak yang salah kaprah memanfaatkan sosmed jadi ajang selingkuh juga tidak heran. Kondisi seperti ini menunjukkan teknologi bukannya membantu manusia tapi malah memperbudak,” paparnya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar