Banyaknya Mall dan Cafe di Jogja Ubah Kebiasaan Macak Kere Mahasiswa

Oleh Jatu Raya,

Banyaknya tempat hiburan dan pereda stress di Jogja ini lama-lama mengubah perilaku mahasiswa yang belajar di Jogja.

BERITA JOGJA – Menjamurnya mall dan cafe di Jogja adalah hasil pertumbuhan ekonomi yang mengesankan selama beberapa tahun terakhir. Predikat sebagai Kota Wisata dan Pelajar merangsang banyak pengusaha dan investor berinvestasi di Jogja dengan membangun mall dan cafe di Jogja. Banyaknya tempat hiburan dan pereda stress di Jogja ini lama-lama mengubah perilaku mahasiswa yang belajar di Jogja. Kalau sekitar 5-10 tahun lalu mahasiswa di Jogja banyak yang macak kere (pura-pura enggak punya apa-apa) padahal latar belakang mereka mampu, saat ini sudah mulai berubah.

mahasiswa jogja

Mengerjakan tugas di cafe jadi kebiasaan sejumlah mahasiswa Jogja kekinian. (Foto: Istimewa)

“Kalau dulu sih naek motor bagus ke kampus itu malu. Nanti digarapi (di-bully). Terus kalau mau beli rokok kudu ketengan, terus cupit (berbagi) satu hisapan sama teman-teman lain. Ada lagi sepatu sampai lulus ya itu-itu saja, enggak ganti terus kalau nongkrong cari warkop murah atau di angkringan. Kalau sekarang saya lihat-lihat sudah beda jauh, di banyak kampus budaya macak kere sudah mulai punah,” kata Dian Hanung, alumni Fisipol UGM 2006.

Prof.Bambang Hartadi, salah pendiri Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) yang juga pendiri Research Park pernah mewanti-wanti soal efek samping mall atau cafe di Jogja yang tumbuh subur. Menurutnya pembangunan bisnis di Jogja ini bisa menyerap tenaga kerja tapi memang harus diakui mengubah kebiasaan mahasiswa. “Memang bisa memengaruhi pola dan gaya hidup mahasiswa di Jogja yang awalnya memang didesain hidup sederhana ketika menimba ilmu di Jogja,” katanya beberapa waktu lalu.

Salah satu contoh adalah tempat mahasiswa mengerjakan tugas besar dari kampus. Saat ini lebih banyak mahasiswa yang suka mengerjakan tugas di cafe-cafe daripada di perpustakaan atau kumpul di kos. “Zaman sudah berubah, mungkin kebutuhan wifi sama internet yang disediakan cafe jadi penarik. Tapi borosnya itu lho. Tapi ngapain juga ya macak kere, sakit sendiri. ” sambung Dena Wahyuliansyah, mahasiswa arsitek salah satu Universitas Swasta di Jogja.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar