Remaja tahun 90-an (Dok.Indonesiaone)

Begini Gaya Mbois Anak Jogja Tahun 90-an

Oleh Jatu Raya,

Di tengah keterbatasan ekonomi, anak muda Jogja tahun 90-an tak pernah mati gaya.

BERITA JOGJA – Mau bergaya di Jogja tahun 90-an itu susahnya minta ampun. Barang-barang enggak semurah sekarang dan jarang ada pakaian bermerk yang murah seperti saat ini (baca: KW). Tapi dari sana muncul cerita-cerita lucu yang kalau diingat bikin terpingkal bahkan sampai menangis.

Remaja tahun 90-an (Dok.Indonesiaone)

Remaja tahun 90-an (Dok.Indonesiaone)

“Zaman dulu mau begaya itu susah. Karena kere kabeh, enggak seperti sekarang perekonomian sudah meningkat dan mudah. Dulu, kalau udah bisa beli kaos C59 aja sudah dianggap wong sugih. Pakai kaosnya kudu kebalik, biar orang-orang bisa lihat merk-nya,” kisah Bakkar, warga Jalan Kaliurang KM 7 mengisahkan eranya sekolah dulu.

Kaos bermerk di tahun 90-an memang masih mahal dan ekslusif ketika dipakai. Selain C59 sejumlah merk lainnya seperti Hassenda, Osela, atau Alpina sering diidamkan oleh anak muda. “Oh ya, Alpina itu ibarat Eiger kalau zaman sekarang. Dulu kalau sudah pakai tas atau sandal Alpina, wah rasanya gagah bener, Dilihatin orang terus kalau jalan,” sambung Pram, pengusaha kedai Wedangan di Jalan Kaliurang.

Selain kaos, Jogja di era 90-an dulu juga boming sepatu yang mirip Converse. “Merknya Warior kalau enggak salah. Anak kuliahan seneng banget kalau makai itu. Keren sama murah. Yang penting itu murahnya kalau zaman dulu itu,” tambah Bakkar.

Kafe di era 90-an Jogja tidak seramai seperti sekarang. Dulu konsep kafe bukan tempat yang didesain buat sekadar ngopi. Kafe Jogja zaman dulu benar-benar didesain ekslusif untuk mereka yang hobi nongkrong dan punya banyak duit.

“Masuk kafe dulu itu kudu sama pacar, biar nggaya. Pakai jeans belel, terus bawa semacam tempat minum tipis dimasukkin kantong. Seperti Ali Topan Ari Sihasale dulu lah,” kisah Pram lalu terkekeh.

Gaya seragam anak sekolah juga mencolok, terpengaruh sama gaya grunge band Nirvana. Salah satu yang cukup mencolok adalah tas selempang anak-anak sekolah zaman 90-an di Jogja yang mengikuti gaya bassist Nirvana, Krist Novoselic. Wahyu Jura, visual designer asal Jogja ingat betul gaya anak sekolah ini.

“Makin panjang selempangnya makin keren. Jadi dulu di sekolah pada pakai tas selempang yang panjang, ada juga yang sampai keseret tasnya,” kenangnya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar