Begini Tren Baru Perceraian di Jogja

Oleh Jatu Raya,

Masalah biologis jadi sebab utama banyaknya perceraian yang terjadi

BERITA JOGJA – Pernikahan itu suci dan diharapkan hanya sekali seumur hidup. Pilihan menikahi orang pilihan sendiri atau orang tua harus dijalani sekuat tenaga.

Takut menikah

Pernikahan (Dok Istimewa)

Sayangnya dalih pernikahan tak jarang manis di awal pahit di tengah-tengah. Selama kurun waktu lima tahun terakhir misalnya, Pengadilan Agama (PA) mencatat meningkatnya kasus perceraian. PA Kota Jogja dan Sleman misalnya, mencatat ada dua tren perceraian yang terjadi selama kurun waktu lima tahun terakhir.

Sampai 2014, perceraian diajukan karena banyaknya suami yang melakukan kekerasan rumah tangga, tidak menafkahi keluarga, dan selingkuh. Namun dua tahun terakhir tren-nya berubah. Masalah biologis jadi sebab utama banyaknya perceraian yang terjadi.

“Kebanyakan karena masalah seksual. Vitalitas laki-laki yang menurun atau perempuannya. Ini memang jadi tren baru. Mulai terlihat sejak 2014,” kata Marwoto, Humas PA Sleman.

Rata-rata yang digugat cerai adalah Sang Suami. Masalah biologis ini kebanyakan melanda mereka yang status sosialnya menengah ke atas. “Bukan pengangguran, tapi kebanyakan sudah mapan,” jelasnya.

Sedangkan dari empat Kabupaten dan Kotamadya di Jogjakarta, kasus perceraian tertinggi ada di Gunungkidul. Sampai akhir tahun 2015 kemarin, PA Gunungkidul menangani sekitar 1310 perkara perceraian dengan alasan yang berbeda-beda.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar