Belajar Demokrasi di Pasar Tradisional

Oleh Jatu Raya,

BERITA JOGJA – Pasar tradisional bukan semata-mata tempat perdagangan yang memperjualbelikan sayur dan alat-alat rumah tangga. Pasar tradisional adalah tempat di mana setiap masyarakat belajar berdemokrasi yang diakhiri dengan mufakat. Demikian keyakinan Yuni Satia Rahayu, Calon Bupati (Cabup) Sleman. Keyakinan ini disampaikannya usai berdialog dengan sejumlah pedagang di Pasar Colombo, Sleman, Kamis (27/8). “Adanya proses […]

BERITA JOGJA – Pasar tradisional bukan semata-mata tempat perdagangan yang memperjualbelikan sayur dan alat-alat rumah tangga. Pasar tradisional adalah tempat di mana setiap masyarakat belajar berdemokrasi yang diakhiri dengan mufakat.

Yuni

Yuni ketika berdialog dengan salah seorang pedagang Pasar Colombo. (Foto: Lia)

Demikian keyakinan Yuni Satia Rahayu, Calon Bupati (Cabup) Sleman. Keyakinan ini disampaikannya usai berdialog dengan sejumlah pedagang di Pasar Colombo, Sleman, Kamis (27/8). “Adanya proses tawar menawar harga itu adalah contoh kecil bagaimana demokrasi yang diakhiri dengan mufakat. Selain itu juga pasar merupakan tempat para pedagang kecil melakukan kegiatan ekonomi yang berperan sangat baik dalam pembangunan demokrasi di masyarakat.” tegasnya.

Oleh karena sebagai salah satu tempat pembelajaran demokrasi, Yuni tak mau keberadaan pasar tergusur toko atau minimarket berjejaring.. Jangan sampai diganggu atau terancam karena toko berjejaring,” tegasnya..

Toko berjejaring memang mengancam keberadaan pasar tradisional. Ponijo, mewakili para pedagang mengeluhkannya secara langsung pada Yuni.  . Kehadiran minimarket itu,kelug Paijo, membuat para pedagang pasar sulit bersaing dan terancam gulung tikar. “Toko berjejaring itu merugikan,  barangnya sama yang dijual, tapi harga selisih bisa mengurangi omset pendapatan pedagang. Kami harap peraturan makin ditegakkan, salah satunya melarang berdirinya minimarket dekat pasar,” keluhnya pada Yuni di Pasar Colombo.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar