Benarkah Hubungan Sultan HB IX dan Soeharto Tak Harmonis?

BERITA JOGJA – Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX menjadi Wakil Presiden pada 1973-1978. Hari-harinya sebagai orang nomor dua di Indonesia menyisakan banyak pertanyaan. Salah satunya keharmonisan keduanya. Ada dugaan bahwa Sultan dan Soeharto tidak harmonis. Meski Sultan HB IX bukan sosok pendendam, klaim penggagas SO 1 Maret yang dialamatkan ke Soeharto jadi salah satu […]

BERITA JOGJA – Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX menjadi Wakil Presiden pada 1973-1978. Hari-harinya sebagai orang nomor dua di Indonesia menyisakan banyak pertanyaan. Salah satunya keharmonisan keduanya.

Kisah Sultan HB IX

Istimewa

Ada dugaan bahwa Sultan dan Soeharto tidak harmonis. Meski Sultan HB IX bukan sosok pendendam, klaim penggagas SO 1 Maret yang dialamatkan ke Soeharto jadi salah satu hal yang patut diperhatikan ketika Sultan mulai memasuki istana negara.

Sultan sebagaimana dituliskan dan kesaksian dalam Sepanjang Hayat Bersama Rakyat yang ditulis Julius Pour mengalah dengan adanya klaim sepihak tersebut. Tak apa kata Sultan, tenang dan tanpa emosi menandakan bagian Jawa-nya.

Pun saat menerima pinangan sebagai Wakil Presiden. Yang ada dalam benak Sultan adalah demi kelangsungan negara. Ia mengesampingkan persoalan pribadinya dengan Soeharto. Namun, yang menarik dari hubungan keduanya saat di barisan terdepan pengawal negara adalah soal komunikasi.

Diceritakan Muhtaryono, ajudan Sri Sultan HB IX, Soeharto selalu menghindari kontak mata dengan Sri Sultan saat pertemuan. Keduanya juga menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari kendati berasal dari Jogja.

Kecurigaan menguat ketika Sultan diminta meletakkan batu pertama di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang disebut-sebut dalam pembangunannya banyak menggusur rumah warga. Julius mencatat tanda tanya besar sebagaimana yang diceritakan Muhtaryono.

“Hampir 1,5 Sri Sultan tidak keluar ruangan dan membuat acara terlambat. Namun tak ada satu kata pun yang keluar dari beliau soal keterlambatan itu. Kejadian seperti itu tidak pernah terjadi sebelumnya mengingat beliau adalah sosok yang selalu tepat waktu. Saya hanya membatin. Mengapa?,” tanya Muhtaryono.

Puncaknya, saat Sri Sultan menolak untuk kembali mengisi jabatan Wakil Presiden. Banyak orang bertanya alasan Sultan menolak dengan halus “amanat” itu. Namun jawaban akan ditolaknya jabatan ini secara halus pernah dikemukakan Widjojo Nitisastro, salah seorang teknokrat zaman Orba pada anaknya.

“Ketahuilan Wida, putriku, Sultan Hamengku Buwono IX adalah ksatria mataram. Dalam mengemban tugasnya, seorang Ksatria harus tahu kapan maju, kapan mundur kalau memang prinsip-prinsipnya memang tidak bisa lagi seiring sejalan,” cerita Wida pada Julius.

 

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar