Mbah Dirman

Penjual Barang Antik Mengenang Masa-Masa Keemasan Radio Klasik

Oleh Jatu Raya,

Dirman mengenang bagaimana masa keemasan radio di zamannya, mulai dari pamer baterai radio sampai joget kampung.

BERITA JOGJA – Tak ada radio, Indonesia tidak merdeka. Tak ada radio, barangkali Sri Sultan tidak akan sempat mengirimkan surat pada Sukarno agar memindahkan Ibu Kota ke Jogja.

Mbah Dirman

Mbah Dirman di Pasar Paingan Sleman. (Foto: Aristides)

Demikian alasan Mbah Dirman (70), pedagang radio antik di Pasar Paingan Sleman menjawab alasan mengapa dirinya selama berpuluh tahun ini rela merawat radio bekas dan menjualnya kembali. “Kalau ekonomi masih bisa dipegang. Yang penting masih ada yang mendengarkan radio, ndak lupa sejarah,” katanya.

Mendengarkan radio 20-50 tahun lalu itu enggak seperti sekarang. Kalau sekarang, orang mendengarkan radio paling banter jadi teman perjalanan di mobil atau pengantar tidur. Dirman mengenang bagaimana masa keemasan radio di zamannya. Mulai dari pamer-pameran baterai radio sampai joget kampung.

“Yang dipamerkan dulu itu bukan radionya, tapi baterainya. Batre sopo sing luih larang, luih suwi kui seng menang. Terus jingkrak-jingkrak pas Koes Plues diputar atau keroncongan. Paling enak mendengarkan sama teman-teman. Kalau keroncong sama pacar, hehehe.. Radio itu mendekatkan dan membuat imajinasi,” kenangnya.

Halaman

1 2

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar