Bidadari di Pelatnas Taekwondo

Bidadari di Pelatnas Taekwondo

Oleh Jatu Raya,

BERITA JOGJA – Islamic Solidarity Games (ISG) III di Palembang, Sumsel, Oktober 2013 lalu melahirkan bintang baru di dunia taekwondo Indonesia. Aghniny Haque namanya, perempuan kelahiran Semarang 8 Maret 1997 ini langsung menjadi buah bibir karena raihannya dan tentu saja kecantikannya. Saat itu, meski dipandang sebelah mata, Niny, sapaan akrabnya sukses menyumbangkan emas bagi Merah […]

BERITA JOGJA – Islamic Solidarity Games (ISG) III di Palembang, Sumsel, Oktober 2013 lalu melahirkan bintang baru di dunia taekwondo Indonesia. Aghniny Haque namanya, perempuan kelahiran Semarang 8 Maret 1997 ini langsung menjadi buah bibir karena raihannya dan tentu saja kecantikannya.

Bidadari di Pelatnas Taekwondo

Aghniny Haque (dok pribadi Aghiny Haque)

Saat itu, meski dipandang sebelah mata, Niny, sapaan akrabnya sukses menyumbangkan emas bagi Merah Putih, di ajang olahraga negara Muslim dunia tersebut. Raihannya di ajang internasional itu sebenarnya pernah dialaminya juga waktu awal menggeluti olahraga ini.

Aghniny yang kini masih bersekolah di SMAN 9 Semarang ini, mengaku sudah tertarik belajar taekwondo sejak baru berusia 6 tahun. Saat itu menurutnya, dirinya yang tergolong nakal dan kerap berkelahi dengan anak-anak tetangga, akhirnya dimasukkan oleh orang tuanya ke klub taekwondo di Semarang guna mendapatkan saluran yang lebih positif.

“Aku tu dulu nakal banget. Terus diikutin ke klub, baru dua hari masuk sudah ada pertandingan dan saya menang. Ini jadi motivasi sendri buat saya,” ujarnya.

Prestasinya tahun lalu juga membanggakan. Anak asuh pelatih Rahmi Kurnia ini menyabet medali emas di ajang Asian taekwondo Championship, Bangkok pada 2014 yang ditambah dengan medali serupa pada November 2014.

“Pelatih dan orang tua yang banyak berjasa. Sekarang saya mau benar-benar fokus ke Pelatnas agar tahun 2015 ini bisa dapat juara lagi,” tuturnya

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar

  • Jokowirere

    Yang seperti ini nih semestinya mendapat close up. Bukan cuma politik atau penghibur semata. Semisal, pak joko ngebajak sawah tanpa pakai sepatu, ya semua petani kek gitu keulus. Darimana esensi beritanya coba? Atau Cita-citata melejit karna “Sakitnya tu disini” gaada nilai positipnya, hanya hiburan semata.

    Maju terus Berita Jogja, tetap idealis, hindari mainstream!!!!

  • Yandri

    Cantiknyaaaaaaaaaa