Ilustrasi perang. (Dok Wikimedia)

Cerita Lucu Pasukan Mataram di Kota Tahi

Tahi itu kemudian digunakan untuk menyiram pasukan Mataram yang tengah memanjat benteng

BERITA JOGJA – Pada masa kepemimpinan Sultan Agung, Kerajaan Mataram tercatat pernah dua kali menyerang Batavia yaitu di tahun 1628 dan 1629. Dari dua kali menyerang Batavia itu, pasukan Mataram di bawah komandan perang Panembahan Purbaya ini mengalami kekalahan.

Ilustrasi perang. (Dok Wikimedia)

Ilustrasi perang. (Dok Wikimedia)

Kekalahan pasukan Mataram ini disebabkan oleh kurangnya pasokan logistik dan persenjataan. Meskipun mengalami kekalahan, namun pasukan Mataram ini sempat membuat pasukan Hindia Belanda yang ada di Batavia kalang kabut dan kocar-kacir.

Di balik kekalahan pasukan Mataram tersebut ada sebuah cerita lucu yang dikisahkan oleh Johan Neuhof, seorang penerjemah asal Jerman. Sebuah buku berbahasa Belanda dengan judul Die Gesantschaft der Ost-Indischen Geselschaft in den Vereinigten Niederlaendern an Tartarschen Chan yang terbit pada tahun 1669 memuat sebuah cerita lucu tentang pasukan Mataram dan Tahi Belanda.

Neuhof menceritakan bahwa pada tahun 1628, pasukan Mataram menyerang Redoubt Hollandia, sebuah bangunan pertahanan di Batavia. Dalam pertempuran itu, pasukan Matarm berhasil membuat pasukan Hindia Belanda terkurung di benteng dan kehabisan amunisi. Pasukan Hindia Belanda pun frustasi.

Di tengah kefrustasiannya itu, seorang Sersan Belanda bernama Hans Madelijn memunyai ide gila. Dikumpulkannya anak buahnya lalu diperintahkannya untuk mengumpulkan tahi. Tahi itu kemudian digunakan untuk menyiram pasukan Mataram yang tengah memanjat benteng. Alhasil, lari tunggang langganglah para pasukan Mataram terkena lemparan tai dari musuhnya. Oleh pasukan Mataram, kawasan Redoubt Hollandia ini kemudian dijuluki sebagai Kota Tai.

Nama Kota Tai itu pun melekat. Sayangnya, pada pertengahan abad ke-19, kawasan yang dijuluki Kota Tai itu berganti nama.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar