Tulisan soal Cine Drama Institute di Aneka tahun 1952 (Foto: Istimewa)

Cine Drama Institue: Sekolah Film Jogja di Tengah Revolusi

Pramoedya Ananta Toer dalam Kronik Revolusi menuliskan adanya sekolah film di Jogja yang muncul di tengah Agresi Militer Belanda II

BERITA JOGJA – Pramoedya Ananta Toer dalam Kronik Revolusi menuliskan adanya sekolah film di Jogja yang muncul di tengah Agresi Militer Belanda II. Juli 1948, Kementrian Penerangan menginformasikan membuka sekolah film dan teater bernama Cine Drama Institute untuk mendidik seniman Indonesia baik secara teori maupun praktik.

Tulisan soal Cine Drama Institute di Aneka tahun 1952 (Foto: Istimewa)

Tulisan soal Cine Drama Institute di Aneka tahun 1952 (Foto: Istimewa)

Dua orang penting dalam sekolah itu adalah Ki Hajar Dewantara dan Hinatsu Heitaro yang lebih dikenal dengan Dr.Huyung. Nama terakhir lebih banyak mendapat sorotan karena merupakan bekas prajurit Jepang yang ditugasi untuk mengurus sandiwara Indonesia saat zaman kependudukan. Pengalamannya selama itu dituangkan ke Cine Drama Institue dengan membuat kurikulum pembelajaran seperti teknik film, drama, musik, tari, foto, kesusastraan, dan bahasa Inggris.

Huyung sendiri menjadi kepala sekolah bersama Mr.Sujarwo dan Iskak.  Cine Drama Institute menerima lulusan Sekolah Menengah Tinggi atau yang sederajat dengan guru-guru beken seperti Ki Hajar Dewantara, Intojo, Drs. Sumaji, Drs. Sigit, dan Armijn Pane. Di antara murid Cine Drama Institute tercatat ada nama Soemardjono yang kemudian jadi sutradara terkemuka dan Usmar Ismail, Bapak perfilman Indonesia.

Sayangnya Cine Drama Institue tidak bertahan lama. Konflik antarpengurus mengantarkan Huyung ke depan pintu keluar. Setelah itu Huyung mendirikan Stichting Hiburan Mataram (SHM). Di SHM inilah ia mulai banyak memproduksi karya seperti Malam Sutji dan Kisah Pendudukan Yogya yang dipuji habis-habisan oleh Sukarno.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar