Hanyaterra Band

Di Tangan Hanyaterra, Tanah Liat Bisa Jadi Musik

BERITA JOGJA – Bermusik tidak bisa lepas dari lingkungan sekitar. Alat musik, inspirasi, sampai pembuatan lirik bisa datang dari lingkungan. Hanyaterra menerapkan itu semua. Grup musik yang berasal dari Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat ini memanfaatkan potensi di daerahnya. “Kita tidak bisa lepas dari apa yang ada di Jatiwangi. Salah satunya tanah liat,” beber Tedi gitaris […]

BERITA JOGJA – Bermusik tidak bisa lepas dari lingkungan sekitar. Alat musik, inspirasi, sampai pembuatan lirik bisa datang dari lingkungan. Hanyaterra menerapkan itu semua. Grup musik yang berasal dari Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat ini memanfaatkan potensi di daerahnya.

Hanyaterra Band

Istimewa

“Kita tidak bisa lepas dari apa yang ada di Jatiwangi. Salah satunya tanah liat,” beber Tedi gitaris sekaligus vocal Hanyaterra.

Bagi Tedi, Ahmad Thian (perkusi), dan Iwan Maulana (bass) bermusik seperti menjalani hidup. Membuat alat musik dari tanah liat, merekam suara dan kejadian setiap hari yang tidak pernah lepas dari tanah di Jatiwangi.

“Ya bisa dibilang kami ingin mengangkat tanah lebih bermartabat. Tanah liat mempunyai nilai lebih,” tambah Tedi.

Hanyaterra membawakan musik-musik pop. Namun, banyak yang menyebut bahwa mereka memainkan rock alternatif atau etnik-rock. Menurut Tedi, banyaknya pendapat dikarenakan Hanyaterra terus bereksperimen dan mengeksplorasi instrumen tanah liat. Alat musik karya Hanyaterra selalu berbeda bentuk, sehingga menghasilkan suara yang berbeda juga.

Alat musik dari tanah liat ternyata mempunyai suara yang khas. Seperti suling, karena pori-pori tanah yang renggang, menghasilkan suara yang lebih lembut. Pun dengan gitar, karena badan gitar berasal dari genteng yang berbentuk kotak, maka menghasilkan suara yang lebih kering.

“Tidak biasanya nada yang dihasilkan justru menjadi tantangan bagi kami menggabungkan semua nada hingga menjadi musik yang utuh,” pungkas Tedi.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar