“Dialog” Art Exhibition Jogja: Cerita Kisah Lupa Manusia

Oleh Jatu Raya,

Pameran seni "Dialog" di Dusun Jogja Village In bisa dinikmati dari tanggal 9 Juni-9Juli 2016.

Lukisan karya Suharmanto, Breakfast (Foto: Jatu Raya)

Lukisan karya Suharmanto, Breakfast (Foto: Jatu Raya)

BERITA JOGJA – Deddy Shofianto, Dedy Sufriadi, Joko Gundul, Made Romi Sukadana, M.A Roziq, dan Suharmanto, dalam komunitas Jago Tarung menggelar sebuah pameran bertajuk “Dialog” di Dusun Jogja Village In, 9 Juni-9 Juli 2016. Puluhan karya berupa lukisan, pahatan, dan foto ini disajikan anggun dalam ruang pameran dan lobi hotel yang terletak di Jalan Menukan, Karangkajen, Jogja ini.

Dialog dipilih sebagai tajuk karena tiap karya dalam pameran ini mengikat komunikasi interpersonal. Tiap karya yang dibuat para seniman memberikan informasi dan cerita yang selama ini kurang mendapat perhatian lalu terlupakan.

“Kenapa kami mengangkat tema Dialog karena dalam pameran ini memang ada pertukarang budaya, pertukaran informasi, dan pengetahuan pada publik. Temanya juga tidak spesifik, karena kami tidak mau membatasi para seniman untuk berkarya dan berdialog lewat karyanya,” jelas Dedi Yuniarto dari Jago Tarung.

Puluhan karya ditempatkan di dua ruang, yaitu pameran dan lobi. Ada narasi besar tentang realita sosial dalam tiap karya. Ada Dedy Shofianto lewat dua karya kayunya, “Evolution” dan “Bergerak Menembus Era Globalisasi”. Berbahan dasar kayu teak, pine, dengan dipasangi dinamo dan sistem suara ultrasonik, “Evolution” seolah jadi kumbang hidup yang meronta kesakitan namun tak terdengar manusia. Dedy membawa masa kecilnya ke dalam karya ini.

Evolution Dedy Shofianto (Foto: Azka Maula)

Evolution Dedy Shofianto (Foto: Azka Maula)

“Bentuknya kumbang tanduk. Di tanah kelahiran saya di Jambi kumbang tanduk sudah punah sekarang. Padahal dulu sangat banyak sekali. Tidak ada yang tahu soal kepunahan ini,” katanya saat ngobrol santai di area pameran.

Joko Gundul menggambarkan manusia dan kemanusiaan melalui enam karya berjudul “Tarian Jaman”, “Makan Padi”, dan “Pembawa Berkah”.Ia menggunakan medium batu yang dilembutkan. Proses pembuatannya memerlukan waktu yang cukup lama. Menunggu mood, kata Joko.

Empat sosok menaiki mainan kuda lumping dalam “Tarian Jaman”. Dengan tangan rantingnya, keempatnya menari kuda lumping dengan sorot mata bahagia. Ia sengaja memediumkan tangan dalam karyanya dalam bentuk ranting.

Tarian Jaman Joko Gundul (Foto: Cahyo PE)

Tarian Jaman Joko Gundul (Foto: Cahyo PE)

“Batu itu keras, dan begitu juga manusia. Tapi batu bisa dilembutkan begitu juga manusia. Saya sengaja memakai ranting untuk tangan ‘mereka’ untuk melambangkan keterbatasan dalam diri manusia. Tangan hanya bisa meraih hal-hal yang terbatas, beda dengan keinginan yang sifatnya sangat luas,” bebernya.

Narasi besar lainnya dikomunikasikan Suharmanto melalui tiga lukisannya. “God Is Watching” berpusat pada pengayuh becak yang disorot lampu langit. Mata sendok yang merekam keseharian orang-orang kecil di pasar dalam “Breakfast” dan seekor ikan segar berwarna biru dalam “Fish”. Suharmanto bermain-main dengan kesemiotikan dalam karyanya. Ia membincang realita sosial yang ada namun nyaris terlupa.

Foto M.A Raziq adalah karya yang memadukan keliaran imaji, teknik foto, dan demokrasi logika. Objek foto yang diambilnya tidak abrakadabra disediakan alam. Ia membuatnya dengan medium es. Ia membuat seekor-atau seolah-ikan Paus dengan es dalam freezer lengkap dengan penadian darah dalam “Mutant” dan “Mystery” yang menampilkan seekor gajah samar tertutup kabut es.

Mutant, M.A Roziq (Foto: Aan Zaenu)

Mutant, M.A Roziq (Foto: Aan Zaenu)

Ada protes samar dalam kedua karyanya ini terhadap ilmu pegetahuan. Gajah, katanya menggebu, bisa saja hari ini belalainya panjang dan berbadan besar. “Tapi belum tentu besok akan panjang belalainya. Ini adalah imajinasi dari objek yang saya buat,” ceritanya.

Ada juga lukisan seniman asal Bali, Made Sukadana berjudul “Still Life”. Bidang dan garis Made membuat lukisannya laiknya deretan potret tua yang mengajak penikmat seni ke Istana Versailes ditemani anggur dan musik klasik. Juga terpampang Monalisa dalam benak Dedy Supriadi. Finalist UOB Art Award 2015 ini mengacaukan benak atas lukisan Monalisa yang dibuat Da Vinci. Ia seolah sedang menggambarkan definisi siapa atau apa sosok dalam lukisan seniman Italia itu: Chaos.

Dusun Village In juga jadi tempat yang tepat menggelar pameran. Mereka yang terlibat dalam pameran ini punya ruang untuk mengenalkan dunia seni Jogja dan kebudayaan pada tamu hotel yang kebanyakan diisi wisatawan mancanegara. “Seperti tajuk pameran ‘dialog” di sinilah fungsi kami sebagai penukar informasi kebudayaan pada mereka yang datang ke Jogja dari belahan barat. Selain itu dekorasi dan tema hotel juga Jogja banget,” tambah Dedi.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar