Digugat 1 Miliar Rupiah, 5 PKL Gelar Topo Pepe

Oleh Kresna,

PKL meminta Sultan untuk mencabut surat kekancingan yang diberikan kepada Eka Aryawan karena digunakan dengan sewenang-wenang.

BERITA JOGJA – Lima orang pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di Jalan Brigjen Katamso, Gondomanan, Jogja menggelar aksi Topo Pepe sebagai bentuk protes atas gugatan sebesar 1 miliar rupiah yang diajukan oleh seorang pengusaha bernama Eka Aryawan kepada mereka.

Lima orang PKL yang melakukan Topo Pepe memulainya dengan dengan berjalan kaki dari lokasi mereka biasa mencari nafkah dan mengakhiri di Alun-alun Utara, Minggu (13/9) siang. (Foto oleh Kresna)

Lima orang PKL yang digugat 1M melakukan Topo Pepe memulainya dengan dengan berjalan kaki dari lokasi mereka biasa mencari nafkah dan mengakhiri di Alun-alun Utara, Minggu (13/9) siang. (Foto oleh Kresna)

.

Sembari membawa berbagai poster protes dan mengenakan busana Jawa, kelima PKL yakni Budiyono tukang kunci, Sutinah penjual rames, Agung tukang kunci yang juga merupakan anak Budiyono dan suami istri Sugiyadi dan Suwarni penjual Bakmi Jawa menjemur diri di bawah panasnya sinar matahari. Topo Pepe ini merupakan bentuk meminta perhatian dari pihak Kraton atas permasalahan yang dihadapi oleh lima PKL tersebut.

“Kami melakukan ini supaya publik dan masyarakat tahu. Kami juga ingin supaya Kraton dan Sultan tahu bahwa ada rakyatnya yang ditindas karena penerbitan surat kekancingan,” ujar Agung kepada Beritajogja.id

Agung menambahkan bahwa dirinya dan keempat PKL yang lain meminta kepada Sultan untuk mencabut surat kekancingan yang diberikan kepada Eka Aryawan. Menurut Agung, pemilik surat kekancingan tersebut telah menggunakan surat tersebut dengan sewenang-wenang.

“Kami berharap Sultan mengizinkan kami tetap mencari nafkah di lokasi kami. Kami sudah puluhan tahun dan turun menurun menggunakan lokasi tersebut untuk mencari nafkah. Keluarga kami dapat makan karena berjualan di sana,” ungkap Agung.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar