Di Usia 109 Tahun, Mbah Tumirah Masih Jualan Kacang untuk Bertahan Hidup

BERITA JOGJA – Siang itu, sekitar pukul 14.00 Wib, terik matahari terasa menyengat. Di parkiran stasiun Tugu, mbah Tumirah duduk dilantai dengan alas selendang menunggu pembeli kacang kering yang dijualnya. Meski usianya 109 tahun dan tubuh rentanya sudah sakit-sakitan, namun dia tidak mengeluh harus berpanas-panas dan bersusah payah untuk mencari uang. “Daripada saya di rumah, […]

Mbah Tumirah berusia 109 tahun masih berjualan kacang kering di parkiran stasiun Tugu Jogja

Mbah Tumirah berusia 109 tahun masih berjualan kacang kering di parkiran stasiun Tugu Jogja

BERITA JOGJA – Siang itu, sekitar pukul 14.00 Wib, terik matahari terasa menyengat. Di parkiran stasiun Tugu, mbah Tumirah duduk dilantai dengan alas selendang menunggu pembeli kacang kering yang dijualnya.
Meski usianya 109 tahun dan tubuh rentanya sudah sakit-sakitan, namun dia tidak mengeluh harus berpanas-panas dan bersusah payah untuk mencari uang.

“Daripada saya di rumah, ngomblong, nglangut, mending saya jualan kacang, bisa untuk makan hasilnya,” ujar nenek yang mengaku sempat merasakan kejamnya penjajahan Jepang ini.

Mbah Tumirah sebenarnya tinggal dengan cucunya yang berprofesi sebagai tukang becak di Sosrowijayan, Kota Jogja. Namun dia menolak hanya menggantungkan hidup pada cucunya itu. Meski secara fisik sudah semakin lemah, mbah Tumirah menolak untuk membuat cucunya repot.

“Ya daripada menyusahkan orang lain, selagi masih bisa cari uang kenapa nggak,” ungkap nenek yang juga akrab disapa para tukang becak dan tukang ojek dengan nama mbah Kacang.

Halaman

1 2

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar