Ekspedisi Pantai Selatan

Ekspedisi Pantai Selatan: Kisah Manol di Pelabuhan Sadeng

Oleh Kresna,

Ekspedisi Pantai Selatan Gunungkidul baru saja usai dan berikut inilah kisah pertama ketika menyisir pantai menggunakan sepeda.

BERITA JOGJA – Dua menara berdiri kokoh jadi semacam gerbang laiknya sebuah halaman depan rumah yang selalu terbuka di dermaga Pantai Sadeng, Girisubo, Gunungkidul. Celah sempit di antaranya jadi satu-satunya gerbang keluar-masuknya kapal-kapal nelayan di sana. Di dermaga sendiri sudah tersusun rapi banyak kapal yang tempat berlabuhnya dibedakan sesuai ukuran. Kapal-kapal kecil di bagian utara, sementara kapal besar di selatan.

Ekspedisi Pantai Selatan

Kapal-kapal berbaris rapi di Dermaga Sadeng. (Foto: Rohhaji)

Beberapa kapal kecil hingga besar seukuran 35 gross ton mulai berlabuh saat subuh. Ketika itulah para manol mulai menyambut mereka dengan riang.   “Kapale teko!” teriak Sugiyanto seorang Manol atau kuli angkut ikan.

Sembilan rekan Sugiyanto bergegas mengambil tongkat kayu bulat sepajang dua meter dengan diameter sekitar 10 centimeter, lalu berlari menuju dermaga di sebelah utara. Kapal kecil pelan-pelan merapat. Tali kapal sudah dipancang Sugiyanto di dermaga. Satu-persatu ember besar berisi ikan tongkol diangkut dengan tongkat kayu. Sugiyanto mengangkat ujung tongkat belakang, sementara rekannya di bagian depan. Ember berisi ikan tongkol bergoyang-goyang di antara Sugiyanto dan rekannya.

“Hop..hop..sing nduwur nampani!” perintah Sugianto.

Begitu ember-ember berisi tongkol berhasil diturunkan di tepi dermaga, rekan-rekan Sugiyanto lalu mengangkutnya ke tempat pelelangan yang hanya berjarak beberapa meter. Usai semua ikan terangkat dari kapal, Sugiyanto dipanggil salah seorang awak kapal. Sekantong plastik ikan tongkol diberikan pada Sugiyanto.

Ekspedisi Pantai Selatan

Seorang nelayan melemparkan jangkar. (Foto: Rohhaji

Selain uang, pada manol juga biasa mendapat ikan segar dari nelayan. Ikan itu sebagai penambah uang jasa manol yang tidak seberapa besar. “Kalau manol bayarannya tidak tentu, berapa dikasih ya kita ambil, lalu dibagi sepuluh. Kadang juga ditambahin ikan begini. Maklum hampir semua di sini saudara,” terangnya.

Sekantong ikan tongkol itu pun langsung diantarnya ke rumah untuk dimasak. Setelah makan siang, dia pun kembali lagi ke dermaga. “Rumah saya nggak jauh. Ini tongkol dibawa pulang dulu, dimasak. Nanti balik sini lagi,” ungkapnya.

Ekspedisi Pantai Selatan

Para Manol sedang mengangkat hasil tangkapan para nelayan. (Foto: Rohhaji)

Profesi manol ini sendiri sudah digelutinya lama. Setiap hari dia harus siaga jika sewaktu-waktu ada kapal yang merapat membawa ikan. Pukul 04.00 Wib dia sudah berada di dermaga menunggu kapal biasanya merapat sejak subuh. “Jam empat pagi itu sudah di sini. Biasanya nanti sampai jam enam sore. Setelah itu jarang yang merapat. Kalau ada kadang kita juga datang juga,” tambahnya.

Pulang ke rumah terkadang Sugiyanto hanya membawa uang Rp.20.000 – Rp.30.000. Jika sedang sepi musim ikan, maka Sugiyanto pun hanya bisa ngelangut. “Seadanya mas, untung sekarang lagi musim, jadi lumayan,” tandasnya.

Setelah pekerjaan pertama selesai, dia dan beberapa temannya pun duduk di tepi dermaga. Sesekali berbincang-bincang dengan nelayan yang baru melabuh. Jika dari kejauhan tampak ada kapal yang akan merapat, dia dan teman-temannya pun berdiri, tongkat kayu disiapkan dan kembali bekerja.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar