Ekspedisi Pantai Selatan

Ekspedisi Pantai Selatan: Mengenal Musim Layur Gunungkidul

Oleh Kresna,

Meski di sekitaran pantai Sadeng air sudah mengering dan petani kesusahan, namun justru inilah saat yang mereka tunggu.

BERITA JOGJA – Angin laut di bulan November menghembuskan nasib baik bagi nelayan. Meski di sekitaran pantai Sadeng air sudah mengering dan petani kesusahan, namun inilah saat yang mereka tunggu. Beberapa hari ini jala-jala mereka dipenuhi ikan layur dan tengkol. Dalam sehari tempat pelelangan ikan bisa dibanjiri lebih dari 10 ton ikan layur dan tongkol.

Ekspedisi Pantai Selatan

Para manol sedang mengangkat ikan tangkapan nelayan Sadeng. (Foto” Rohhaji)

Jumat 6 November pagi. Kapal KUB Inka Bantul sudah merapat. Sekitar pukul 07.00 Wib lebih, ikan-ikan sudah diangkut ke tempat pelelangan. Juragan-juragan ikan sudah menunggu di tempat pelelangan. Kotak-kota stereoform tempat ikan dan es batu sudah siap.

Ratusan layur dijejer di lantai pelelangan, lalu satu persatu dipilah dan dimasukan dalam kotak stereoform. Ikan layur bentuknya memanjang sekitar 50 centi meter, sekilas menyerupai ikan cucut. Warna keperak-perakan dan mengkilat. Di bagian punggung ada sisip tipis transparan.

“18 kilo!” teriak juru lelang.

Seorang tukang angkut langsung menutup kotak stereoform dan membawanya ke pick up yang sudah menunggu di depan pelelangan. Berturut-turut seperti itu sampai ikan-ikan habis. Sekilo layur dibeli oleh juragan dari nelayan Rp 24.000, sementara tongkol Rp.14.000. Namun jika sedang panen seperti saat ini, harganya cenderung turun. Khusus untuk layur, tidak dijual oleh juragan di pasar lokal, melainkan di ekspor.

“Memang kalau ikan layur ini kualitasnya ekspor. Tuna dan cakalang di sini juga biasanya di ekspor. Tapi sekarang lagi musimnya layur dan tongkol. Kalau tongkol biasanya masih di pasar lokal,” terang Nailan salah seorang petugas Pelabuhan Sadeng.

Musim layur ini membawa rejeki sendiri bagi nelayan. Selain harganya yang cukup tinggi di pasaran juga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkannya. Sehari atau dua hari melaut sudah bisa membawa layur atau tongkol melimpah.

Bardi salah seorang awak kapal inka mengatakan masa pegantian musim ini merupakan salah satu musim favorit nelayan. Ikan-ikan tidak perlu dikejar, mereka berenang sendiri ke dalam jala-jala nelayan seolah mengetahui kebutuhan nelayan. “Minggu-minggu kemarin sepi, ini banyak banget. Cocoklah dibanding kemarin,” ujarnya.

Ekspedisi Pantai Selatan

Kapal bernagkat melaut mencari ikan layur dari dermaga Sadeng. (Foto: Rohaji)

Setelah layur-layur diangkut, giliran kapal kecil merapat ke dermaga. Seorang manol sudah berteriak memanggil teman-temannya saat kapal merapat. Belasan ember besar berisi tongkol yang masih segar diangkut ke pelelangan.

Hasil tangkapan tongkol pun tidak kalah mencengangkan. Kapal yang seharusnya hanya muat 3 sampai 4 Kuintal, bisa dipenuhi tongkol hingga 1 ton. Namun karena sulit membawanya, nelayan kadang harus melepaskan tangkapan mereka.

“Kalau lebih kita lepas, daripada kapal nggak kuat malah kandas. Memang musimnya sedang ramai layur dan tongkol, kita khawatir kalau harganya anjlok,” pungkas Kasturi salah seorang nelayan.

Bagi Kasturi dan rekannya, tangkapan kali ini mendatangkan rejeki yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika di hari-hari biasa mereka hanya bisa mendapatkan ikan sekitar 30-60 kilogram,  namun di awal musim penghujan ini mereka mendapatkan lebih. “Sekali melaut butuh 100ribu, ya minimal berarti harus bisa menutup itu. Tapi alhamdulilah ini dapatnya banyak,” tandasnya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar