Istimewa

Film Senyap Dilarang, Ormas dan Negara Mau Goakan Mahasiswa?

BERITA JOGJA – Pemutaran film Senyap di sejumlah kampus di Jogjakarta dibubarkan. Kendati bertujuan akademis, film yang dibuat oleh Joshua Oppenheimer itu dianggap sejumlah pihak bakal menelurkan paham komunis ke kalangan mahasiswa. Kekhawatiran serupa yang berujung pelarangan sempat terjadi juga di film karya Joshua lainnya, The Act of Killing. Film dokumenter kesaksian pelaku Gestok 1965 […]

BERITA JOGJA – Pemutaran film Senyap di sejumlah kampus di Jogjakarta dibubarkan. Kendati bertujuan akademis, film yang dibuat oleh Joshua Oppenheimer itu dianggap sejumlah pihak bakal menelurkan paham komunis ke kalangan mahasiswa.

Istimewa

Istimewa

Kekhawatiran serupa yang berujung pelarangan sempat terjadi juga di film karya Joshua lainnya, The Act of Killing. Film dokumenter kesaksian pelaku Gestok 1965 ini berujung pada pelarangan pemutaran dengan alasan serupa.

Jauh ke belakang, tepatnya pada 1982 film dengan tema serupa-meski bukan dokumenter, seputar 1965 juga dilarang. Film yang dibintangi Mel Gibson berjudul The Year of Living Dangerously ini merupakan film yang diambil dari pengamatan Christoper Koch, jurnalis ABC saat berada di Indonesia tahun 1965.

Di luar tema seputar 1965, banyak film yang pernah dilarang. Ada Balibo, kisah Sum Kuning, dan lain sebagainya.

Film demi film seputar 1965 yang dilarang sepihak oleh Ormas, LSM, bahkan aparat yang di era kontemporer tidak relevan dengan semangat demokrasi dan keterbukaan yang mulai diagungkan sejak 1999. Di era kekinian masa iya mahasiswa masih dikerangkeng dengan pelbagai ancaman laiknya zaman Orba. Masa iya mahasiswa masih menerima ancaman di ujung bayonet atau parang.

Kendati sensor tidak lagi dilakukan dengan Undang-Undang, namun negara masih meminjam tangan organisasi masyarakat berbasis politik dan keagamaan seperti zaman hula-hula dulu. Tidak heran sebenarnya karena sejak puluhan tahun lalu negara memang memelihara sejumlah ormas yang rela melakukan tindak kekerasan. Ketika ada gangguan atau ancaman, mereka dilepas lalu negara duduk menjadi pengamat melihat benturan sekaligus hakim yang memenangkan salah satu pihak.

Lucu juga melihat sensor terhadap aktivitas mahasiswa, khususnya saat nonbar Senyap. Saat negara lain bahu membahu dengan mahasiswa memikirkan cara agar Mars bisa dihuni, negara masih hobi bergulat dengan banyaknya sensor akademik. Sementara itu sejumlah pejabat, ehm, oknum mungkin, di rektorat jangan turut mendukung kekerasan akademik itu. Jangan cuma duduk diam di kursi empuk sambil menghitung pemasukan SPP mahasiswa lalu menuruti sensor yang datang berdalih ideologi, agama, atau keamanan.

Dalam konteks akademik para pejabat rektorat sejatinya harus mendukung semua kegiatan mahasiswa. Adanya nonton bareng film dokumenter yang menawarkan data sejarah yang berbeda dari yang ada bisa saja memantik kreativitas mahasiswa. Begitu juga dengan negara yang harus memfasilitasi segala kegiatan akademik mahasiswa termasuk dalam wacana sejarah demi-meminjam istilah Harmoko-pembangunan dan persaingan pendidikan ke depan.

Ormas juga jangan paranoid dengan segala hal yang berbau Gestok 1965. Film Joshua bukan tontonan provokatif yang mengajak mahasiswa membenci ormas atau militer, melainkan data sejarah peristiwa kelam 1965 di Indonesia. Apalagi membubarkan disertai ancaman atau kekerasan. Lebih baik duduk dan nonton bersama, lalu setelah itu baru komentar. Sudah banyak fasis di negara ini, jangan lagi ditambahi.

Kalau sensor terus dilakukan, bukan tidak mungkin Indonesia masih berkutat dalam goa main batu api sementara negara lain sudah bikin cafe di Mars.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar