Gunung Merapi “Lenyap” dari Selatan

Oleh azkamaula,

BERITA JOGJA – Pemasangan reklame dan baliho yang diletakkan disekitar jalanan Jogja mulai menutupi pandangan pejalan kaki dan pengendara. Bahkan bila dilihat dari selatan, Gunung Merapi sudah mulai lenyap dari pandangan akibat tertutup oleh reklame dan baliho berukuran besar-besar. Ir. Gunung Radjiman, selaku Dosen Magister Pembangunan Wilayah UGM membenarkan hal tersebut. Menurutnya hal ini menghilangkan […]

Ruang Kota Jogja

Iustrasi ruang kota (Pusaka)

BERITA JOGJA – Pemasangan reklame dan baliho yang diletakkan disekitar jalanan Jogja mulai menutupi pandangan pejalan kaki dan pengendara. Bahkan bila dilihat dari selatan, Gunung Merapi sudah mulai lenyap dari pandangan akibat tertutup oleh reklame dan baliho berukuran besar-besar.

Ir. Gunung Radjiman, selaku Dosen Magister Pembangunan Wilayah UGM membenarkan hal tersebut. Menurutnya hal ini menghilangkan hak pengguna jalan untuk dapat menikmati bangnan bersejarah dan pemandangan alam yang ada.

“pengguna jalan memiliki hak untuk dapat melihat bangunan bersejarah dan pemandangan alam, lho. Gunung merapi saja sudah tak terlihat dengan jelas kalau dilihat dari selatan,” katanya.

Radjiman juga menambahkan bahwa Pemerintah Kota Jogja harus berkaca pada kebijakan yang diterapkan oleh Malaysia dan Singapura terkait kebijakan tata ruang. Pasalnya, kebijakan tata ruang yang diterapkan oleh Pemkot Jogja sangatlah lunak terhadap maraknya pemasangan reklame dan baliho di jalanan Jogja.

“Jogja sendiri saat ini tidak ada kebijakan yang mengatur seberapa besar baliho atau reklame yang boleh dipasang tanpa membangun pemandangan atau mengganggu hak publik.Jangankan untuk hal itu, untuk mengatur besar kecilnya huruf yang digunakan atau tinggi reklame saja kita belum ada,” pungkasnya.

Pemasangan reklame dan baliho yang diletakkan disekitar jalanan Jogja mulai menutupi pandangan pejalan kaki dan pengendara. Bahkan bila dilihat dari selatan, Gunung Merapi sudah mulai lenyap dari pandangan akibat tertutup oleh reklame dan baliho berukuran besar-besar.

Ir. Gunung Radjiman, selaku Dosen Magister Pembangunan Wilayah UGM membenarkan hal tersebut. Menurutnya hal ini menghilangkan hak pengguna jalan untuk dapat menikmati bangnan bersejarah dan pemandangan alam yang ada.

“pengguna jalan memiliki hak untuk dapat melihat bangunan bersejarah dan pemandangan alam, lho. Gunung merapi saja sudah tak terlihat dengan jelas kalau dilihat dari selatan,” katanya.

Radjiman juga menambahkan bahwa Pemerintah Kota Jogja harus berkaca pada kebijakan yang diterapkan oleh Malaysia dan Singapura terkait kebijakan tata ruang. Pasalnya, kebijakan tata ruang yang diterapkan oleh Pemkot Jogja sangatlah lunak terhadap maraknya pemasangan reklame dan baliho di jalanan Jogja.

“Jogja sendiri saat ini tidak ada kebijakan yang mengatur seberapa besar baliho atau reklame yang boleh dipasang tanpa membangun pemandangan atau mengganggu hak publik.Jangankan untuk hal itu, untuk mengatur besar kecilnya huruf yang digunakan atau tinggi reklame saja kita belum ada,” pungkasnya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar