Gus Miftah: Iman Tidak Dilihat dari Panjangnya Janggut, Tanda di Dahi, atau Jubah

Oleh Jatu Raya,

BERITA JOGJA – Pengasuh pondok pesanteren Ora Aji, Gus Miftah mengingatkan agar tidak menilai keimanan dari penampilan seseorang. Orang yang berjanggut panjang atau memanjangkan janggut belum tentu imannya baik atau orang alim, sekalipun ditambah adanya tanda di dahi atau memakai jubah. “Jadi memanjangkan janggut itu sunnah, tapi enggak bisa jadi kadar keimanan. Iman seseorang tidak […]

BERITA JOGJA – Pengasuh pondok pesanteren Ora Aji, Gus Miftah mengingatkan agar tidak menilai keimanan dari penampilan seseorang. Orang yang berjanggut panjang atau memanjangkan janggut belum tentu imannya baik atau orang alim, sekalipun ditambah adanya tanda di dahi atau memakai jubah.

Gus Miftah

Gus Miftah saat memberikan ceramah, Selasa (7/7) di depan anak-anak yatim piatu. (Foto: Aristides)

“Jadi memanjangkan janggut itu sunnah, tapi enggak bisa jadi kadar keimanan. Iman seseorang tidak terletak pada janggut, tapi pada hatinya,” kata Gus Miftah di depan anak-anak yatim piatu, Selasa (7/7) saat berbuka bersama di Auditorium RRI Jogja.

Ia juga mengingatkan tidak terburu-buru untuk menjustifikasi orang yang punya tanda di dahi dan berjubah laiknya orang-orang Arab sebagai sosok yang beriman lalu alim.

“Tetangga saya itu ada tanda di dahinya, bukan karena shalat tapi habis kejedug tembok. Lalu budaya berjubah itu kan budaya Arab, orang Jogja enggak perlu lah begitu. Iman atau alim bukan itu patokannya,” tambahnya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar