Ilustrasi pasukan (Dok Istimewa)

Hantu Maut: Pasukan Legendaris Jogja di Perang Kemerdekaan

Adu senjata dan pencegatan konvoi yang dilakukan oleh Pasukan Hantu Maut ini membuat repot pasukan Belanda.

BERITA JOGJA – Dalam perang memertahankan kemerdekaan Indonesia, banyak pemuda yang bergabung menjadi pasukan gerilya. Dari sana kemudian terbentuk laskar-laskar. Laskar yang paling ditakuti saat itu-dengan namatak lazim- yaitu Pasukan Hantu Maut.

Anggota Pasukan Hantu sebagian besar terdiri dari para pemuda dari kampung Keparakan, Pujokusuman, Brontokusuman, Prawirotaman, dan Karang Kajen. Pasukan ini dibentuk untuk melawan pasukan Belanda pada Agresi Militer ke dua yang mulai masuk dan ingin menguasai Jogjakarta.

Cikal bakal terbentuknya Pasukan Hantu Maut berawal dari sekumpulan pemuda dari kampung Keparakan tahun 1945 yang turut serta berperang melawan Jepang. Dipimpin Ketua Pemuda Keparakan, Sudiman, mereka turut serta dalam penyerbuan markas tentara Jepang di Kota Baru pada 7 Oktober 1945. mereka sukses merampok tujuh pucuk senjata Jepang  yang kemudian digunakan sebagai modal awal perang.

Ilustrasi pasukan (Dok Istimewa)

Ilustrasi pasukan (Dok Istimewa)

Di tahun 1946 hingga 1947, Pasukan pemuda Keparakan ini mendapatkan pelatihan militer dari seorang anggota Akademi Militer yaitu Nawawi. Pelatihan yang berisikan baris berbaris, cara menggunakan senapan, dan latihan serta strategi perang ini diadakan di daerah Selarong.

Bersamaan masuknya Pasukan Belanda ke Jogjakarta, pasukan pemuda dari Keparakan di bawah kepimpinan Sudiman ini bergerak ke arah Ngoto. Di daerah Ngoto pada 20 Desember 1948, 50 orang pemuda dari Kampung Keparakan tersebut kemudian mendeklarasikan diri menjadi Pasukan Samber Gelap. Usulan nama Pasukan Samber Gelap ini berasal dari Sudiman sang pemimpin pemuda Keparakan. Di daerah Ngoto ini para Pasukan Samber Gelap mulai berperang dan mengganggu para pasukan Belanda. Beberapa kali Pasukan Samber Gelap terlibat kontak senjata dengan Pasukan Belanda yang bermarkas di daerah Tungkak dan Gondomanan.

Selain perlawanan yang dilakukan oleh para pemuda Keparakan, para pemuda di daerah Pujokusuman pun juga melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda yang mulai memasuki wilayah Jogja. Sekitar 30-an pemuda berikrar membentuk pasukan jika Belanda memasuki wilayah Jogja. Pasukan Pujokusuman ini berada di bawah kepmimpinan GBPH Pudjokusumo yang merupakan adik dari Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX.

DI bawah kepimpinan GBPH Pudjokusuman ini para pemuda Pujokusuman berperang melawan Belanda. Lama kelamaan pasukan ini mendapatkan bantuan dari para pemuda Brotokusuman, Prawirotaman, dan Karang Kajen. Para pemuda ini menyatakan diri bergabung dengan pasukan pemuda Pujokusuman. Selanjutnya para pemuda Keparakan yang bergabung dengan Pasukan Samber Gelap pun bergabung dengan pasukan GBPH Pudjokusuman yang berisikan para pemuda dari Pujokusuman, Brotokusuman, Prawirotaman dan Karang Kajen. Setelah tercapai kesepakatan, dua pasukan pemuda ini kemudian meleburkan diri dan memilih nama Pasukan Hantu Maut sebagai nama yang baru.

Pasukan Hantu Maut ini akhirnya berdiri di Ndalem Pudjokusuman (tempat tiggal GBPH Pudjokusuman) pada 9 Januari 1949. Dipilihnya nama Pasukan Hantu Maut ini memiliki arti pasukan perlawanan sebagai hantu yang akan memberi dan menyebarkan maut bagi para pasukan Belanda. Untuk seragamnya, para pemuda ini memilih kaus oblong hijau dan celana putih sebagai penanda pasukan mereka.

Plakat pasukan hantu maut (Foto: Cahyo PE)

Plakat pasukan hantu maut (Foto: Cahyo PE)

Di bulan Maret dan April 1949. Pasukan Hantu Maut mencegat konvoi pasukan Belanda di daerah Kentungan. Kontak senjata dengan rombongan Pasukan Belanda yang bermarkas di Kawasan Kaliurang ini kerap dilakukan oleh Pasukan Hantu Maut. Adu senjata dan pencegatan konvoi yang dilakukan oleh Pasukan Hantu Maut ini membuat repot pasukan Belanda. Bahkan pada saat Pasukan Belanda di markas mereka, Kaliurang tengah menggelar pesta perayaan ulang tahun Ratu Juliana ke 40, Pasukan Hantu Maut melakukan serangan langsung ke markas tersebut. Akibatnya puluhan Pasukan Belanda mati di tangan Pasukan Hantu Maut.

Pada 29 Juni 1949, Pasukan Hantu Maut mendapatkan tugas khusus untuk menjaga keamanan dan ketertiban wilayah utara Stasiun Tugu hingga batas wilayah Jogja sebelah utara. Tugas ini berhasil di jalankan dengan baik oleh Pasukan Hantu Maut hingga Pasukan Belanda meninggalkan wilayah Jogja.

Setelah pemerintahan kembali dipegang oleh Presiden Soekarno dan Belanda meninggalkan Jogja, Pasukan Hantu Maut pun membubarkan diri. Sebagian anggotanya bergabung dengan TNI, ada pula yang kembali ke tempat kerja atau kembali melanjutkan sekolah. Setelah perang usai, para Pasukan Hantu Maut dan para pejuang lainnya mendirikan Kerukunan Pejuang Eks SWK 101 WK III Jogjakarta. Untuk menghargai perjuangan yang dilakukan oleh Pasukan Hantu Maut, di daerah Prawirotaman didirikan tetenger dan monuman Pasukan Hantu Maut.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar