Pihak Promotor, Project Director, sponsor, dan pengelola Candi prambanan berfoto bersama saat jumpa pers. (Foto: Dok Bakkar Wibowo)

Indihome Prambanan Jazz 2016: PR untuk Para Juragan

Oleh Jatu Raya,

Indiehome Prambanan Jazz 2016 kembali menawarkan kemegahan bagi pecinta musik di Indonesia.

BERITA JOGJA – Menggelar konser internasional di Jogja bukan perkara mudah seperti meludah, cuih atau cuh, begitu. Perlu rencana matang dan tempat yang oke buat menghadirkan konser kelas dunia, baik dari tata letak, lampu, kenyamanan stage act, sampai sound. Terlebih lagi Jogja belum punya gedung yang didesain khusus untuk konser musik laiknya Budokan di Jepang.

Beruntunglah Jogja punya tempat yang cocok dijadikan tempat konser berskala internasional. Ini ditangkap dengan baik oleh pihak Rajawali Indonesia Communication yang sejak tahun lalu lincah menggelar event Prambanan Jazz International Music Festival. Event pertama yang digelar di pelataran Candi Prambanan itu menghadirkan saxophonist Kenny G sebagai bintang utama.

Diukur dari kepopuleran media, event pertama itu sukses besar. Hampir seluruh media cetak nasional dan lokal Jogja menampilkan Kenny G di halaman pertama. Ada juga yang sampai setengah halaman. Sound yang berkualitas dan tata panggung dengan latar Candi Prambanan makin meneguhkan kesuksesan itu.

Sayangnya ada beberapa kendala di kursi penonton. Jarak panggung mixer yang berada di tengah stage kursi penonton bikin sedikit geregetan penonton festival. Untunglah tiupan saxophone Kenny G mampu jadi pelupa mereka yang ada di belakang.

Kenny G

Penampilan Kenny G dalam Prambanan Jazz Festival di Candi Prambanan. (Foto: Bintar)

Agustus 2016 ini Prambanan Jazz hadir kembali. Kali ini bertajuk Indihome Prambanan Jazz. Para musisi yang dihadirkan dalam konser ini tak kalah apik dari yang pertama. Rencananya bakal ada musisi internasional Boys II Men dan Rick Price yang tersohor lewat Heaven Knows. Di kelas lokal, ada juga musisi berkelas macam Kahitna, Krakatau Reunion, Mocca, Shaggydog, Trio Lestari dan banyak lainnya.

Berbeda dari tahun lalu, Prambanan Jazz tahun ini diselenggarakan dua hari, 20-21 Agustus 2016 di dua venue Candi Prambanan. Venue Brahma untuk pertunjukan special show dan Venue Wisnu untuk festival show. Tiket masuk area festival seharga Rp200 ribu untuk satu hari, kemudian untuk tiket terusan selama dua hari seharga Rp300 ribu.

Lalu untuk tiket masuk pertunjukan khusus Special Show di hari pertama, untuk kelas Platinum seharga Rp1,5 juta, Gold Rp750 ribu, dan Silver Rp400 ribu. Untuk Hari Ke 2 Spesial Show harga tiket Platinum Rp800 ribu, Gold Rp500 ribu, dan Silver Rp250 ribu. Ada juga tiket Diamond yang bisa didapat memesan langsung di 0274521328 atau 082226664343. Tiket nanti bisa didapatkan secara online di www.tiketapasaja.com atau bisa didapatkan di tiket box Sate Afrika Jl. Raya Tajem Maguwoharjo.

Laiknya tahun lalu, ada tugas mulia yang diusung Rajawali Indonesia Communication: sebuah alternatif konser yang memiliki muatan budaya lokal dan global dengan tercapainya sebuah sinergi jangka panjang dalam usaha memperkenalkan pariwisata di kancah dunia internasional. Ini juga didukung PT Taman Wisata Candi Prambanan, Borobudur, dan Boko sebagai bentuk komitmen dalam ikut serta memajukan dunia pariwisata secara global.

Pihak Promotor, Project Director, sponsor, dan pengelola Candi prambanan berfoto bersama saat jumpa pers. (Foto: Dok Bakkar Wibowo)

Pihak Promotor, Project Director, sponsor, dan pengelola Candi prambanan berfoto bersama saat jumpa pers. (Foto: Dok Bakkar Wibowo)

Candi Prambanan adalah warisan dunia. Ia punya kelokalan yang kental yang tersohor di seluruh dunia. Di sana bersemayam cerita yang bakal terlupakan jika tak diceritakan. Kelokalan yang terus terbungkam oleh kemegahan lampu sorot, yang pada akhirnya membuat Prambanan sekadar objek foto atau pemanis saja.

Situasi ini sepertinya jadi tugas berat bagi promotor dan project director Indihome Prambanan Jazz. Bagaimana cara agar Prambanan tidak sekadar jadi pemanis biasa atau hanya objek diam yang kelokalannya dipinjam demi menarik pecinta musik yang berdampak pada pariwisata Jogjakarta. Prambanan harus ikut bicara dan memperkenalkan dirinya sendiri di depan para musisi dunia dan pecinta musik yang bakal bersenang-senang ke konser tersebut. Atau barangkali ini bisa juga menjadi tugas yang mudah bagi promotor yang punya banyak sekali tenaga ahli untuk mewujudkan itu.

Di lain sisi, andai Prambanan berhasil dihidupkan-sekali lagi tidak hanya lewat konser-bakal jadi pemantik bagi pengelola dan Pemerintah Daerah Jogjakarta agar lebih inovatif mempercantik dan memperkenalkan Prambanan pada dunia, tidak sekadar numpang event.

Jika berhasil dihidupkan pada malam hari dan ikut bicara dalam konser dengan kemegahan dan muatan lokalnya, bukan tidak mungkin nantinya pengelola mau membuka cakrawala agar Prambanan bisa dinikmati juga malam hari.  Kompleks Whitecapel, Inggris, pernah mencoba hal ini dan sukses besar. Daerah yang terkenal dengan kriminalitasnya di Abad 19 itu disulap menjadi tempat wisata malam hari dengan tur-tur brilian. Bahkan ada tur spot pembunuhan Jack The Ripper.

Melihat potensi yang ada di Candi Prambanan, bukan tidak mungkin inovasi itu dilakukan. Terlebih lagi dengan adanya even Indihome Prambanan Jazz yang tampaknya akan gampang mewujudkan dan membuak cakrawala pada pengampu kebijakan.

Bagaimanapun, segala event di Jogja harus diapresiasi. Pun dengan Indihome Prambanan Jazz. Konser dengan musisi kelas dunia dan lokal yang tak kalah tjiamiknya ini jadi dahaga konser besar berkualitas di Jogja. Semoga tabungan cukup untuk menikmati konser dan tak lupa para juragan juga kudu berbenah mempersiapkan Indiehome sebaik mungkin agar para pecinta musik bisa menikmati setiap nada yang diolah musisi dengan wajah semringah dan hati puas saat bersentuhan dengan Candi Prambanan.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar