Sampah plastik (Dok.Plimbi)

Indonesia Bebas Sampah 2020? Please deh…

Oleh Jatu Raya,

Kampanye pengurangan sampah plastik cuma dibebankan ke masyarakat saja, sementara produsen enggak dibebani apa-apa.

Sampah plastik (Dok.Plimbi)

Sampah plastik (Dok.Plimbi)

BERITA JOGJA – Pemerintah lagi bersih-bersih. Selain kampanye Indonesia bebas prostitusi 2019 yang langsung mendapat kritikan (Baca: PSK Jogja Kritik Kebijakan Tanpa Solusi) ada juga kampanye Indonesia Bebas Sampah 2020.

Kampanye dibarengi kebijakan kantung plastik berbayar. Sejumlah toko dan minimarket berjejaring sudah menerapkannya. Di Jogja misalnya, kantung plastik berukuran kecil dikenakan biaya sebesar Rp200. Cukuplah untuk memuat tiga batang cokelat besar, 10 kopi sobek, rokok, odol, pasta gigi, dan pencukur jenggot.

Kebijakan ini lucu juga. Soalnya harga yang dipatok terlalu murah. Mengeluarkan uang sebesar Rp200-Rp5000 dari saku enggak sesulit melupakan mantan. Apalagi buat yang sudah biasa belanja perlengkapan dan kebutuhan hidup sehari-hari di mini market. Si pemunya mini market juga bakal senang-senang aja kalau plastiknya laku banyak.

Kudunya kalau memang niat menyadarkan masyarakat untuk mengurangi sampah plastik, harganya dibuat mahal sekalian. Jual saja kantung plastik kecil seharga Rp10000 dan yang besar Rp50 ribu biar malas belinya. Cuma nanti bakal jadi masalah kali ya kalau pedagang pasar tardisional sudah setuju sama kebijakan ini. Plastik yang dijual mahal bikin permintaan menurun lalu industrinya pada gulung tikar.

Apa pemerintah mikir yang beginian? Paling kalau ditanya jawaban-jawaban normatif ala Orba yang keluar. “Kami sedang mengusahaken agar begini,” atau “Sedang kami koordinasiken dengan sana,” dan lain-lain.

Ada saran membawa goody bag pengganti plastik kalau mau belanja di mini market atau pasar tradisonal. Saran ini-kalau kampanye sukses-nantinya bakal jadi peluang bisnis baru yang cukup menjanjikan. Bakal muncul dah pebisnis goody bag dengan model-model yang dibuat sesuai sasaran usia: entah bergambar pahlawan atau hal menarik lainnya berdalih kampanye sama cinta lingkungan.

Kapitalisme kini sudah mulai masuk ke ruang privat dengan mengadopsi otensitas palsu dari kebudayaan. Dampaknya kapitalisme akan tampak seolah-olah natural dan tidak lagi dipertanyakan dan tetap mengeksploitasi umat manusia, kata Zizek. Niat, sikap, dukungan-yang sifatnya privasi-seseorang terhadap kampanye bebas sampah plastik ini dieksploitasi lalu beralih pada pemakaian goody bag yang mungkin merk dagangnya tinggal menunggu peluncuran.

Ketika makin populer orang memakai goody bag, sampahnya juga bakal menggantikan plastik. Enggak mungkin lah manusia-dalam konsep Jouissance sosial Lacan-puas cuma punya satu goody bag cute. Ada yang lebih cute juga pasti bakal disikat juga terus lama-lama bisa jadi sampah.

Di lain sisi, kampanye sampah plastik ini cuma dibebankan ke masyarakat saja, sementara produsen enggak dibebani apa-apa. Mereka masih asyik aja tuh mengemas produknya dengan plastik. Kudunya pemerintah juga membebankan kampanye ini ke mereka juga. Minimal imbauan lah agar mereka bertanggung jawab atas sampah produknya dengan memakai bahan yang mudah terurai atau yang lainnya. Jangan cuma dibebankan ke masyarakat saja.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar