Industri Pariwisata Jogja Harus Belajar dari Kyoto

Oleh Jatu Raya,

Ada tiga langkah yang bisa dilakukan untuk mengembangkan industri wisata Jogja dari apa yang sudah dilakukan Kyoto.

BERITA JOGJA – Industri Pariwisata Jogja selama satu dekade terakhir tumbuh pesat. Dibanding tahun 1970-an, Jogja sudah mampu mempromosikan tempat wisata daerah dengan baik. Tempat-tempat wisata baru pun bermunculan seiring naiknya Jogja menggeser Jakarta sebagai tempat destinasi wisata sejak tahun 90-an.

“Sekarang Jogja jauh lebih ramai. Dulu saya pernah ke sini, tapi sekarang sangat-sangat ramai sekali dibanding dulu itu, banyak yang berubah juga,” kata Prof. Yosefumi Oneta, pakar wisata Jepang ketika diskusi bareng Pusat Studi Wisata UGM.

Pantai di Gunungkidul

Pantai Indrayanti Gunungkidul dipadati pengunjung. (Foto: Rohhaji)

Namun, dalam dalam realitas kekinian, makin ramainya wisatawan ke Jogja tidak dibarengi dengan pengubahan dan pengembangan tempat wisata. Pemerintah sementara berfokus pada infrastruktur seperti lahan parkir dan lain sebagainya. Padahal pengembangan wisata Jogja juga penting. Banyak kota di dunia yang mirip dengan Jogja dan bisa dijadikan contoh pengembangan wisata. Misalnya saja Kyoto.

Kyoto laiknya Jogja adalah kota yang sama-sama tumbuh sebagai kota wisata berbasis budaya dan sejarah. Kyoto juga sempat menjadi Ibu Kota Jepang di zaman Sekigahara. Pun Jogja di zaman perang mempertahankan kemerdekaan.

“Wisatawan berpotensi menimbulkan permasalahan dan ancaman terhadap situs-situs bersejarah di kota wisata berbasis sejarah dan budaya,” analisisnya.

Tugu Jogja

Satpol PP tengah membersihkan tugu Jogja dari siraman cat merah, Minggu (5/7) siang. (Foto: Aristides)

Oleh karena itu perlu adanya pengembangan dan pengubahan sebagai upaya membangun industri pariwisata di kota yang menawarkan bangunan memori sejarah. Ada tiga jalan yang bisa dilakukan Jogja untuk mengembangkan sektor industri wisata seperti yang sudah dilakukan Kyoto menurut Prof.Yosefumi.

Pertama, memindahkan pusat pariwisata ke dari situs bersejarah ke fasilitas-fasilitas komersial. Kedua, mengubah gaya wisata menjadi lebih partisipatif dengan mengajak wisatawan mengenal budaya Jogja. “Terakhir adalah melibatkan wisatawan ke kehidupan sehari-hari warga lokal agar mendapat pengalaman dan menjadi lebih dekat,” katanya.

 

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar