Keistimewaan Jogja

Jogja Awal Abad 19 Disebut Versailles Jawa

"Solo selalu memberi kesan yang luar biasa, tapi Jogja dalam masa kemuliaannya pastilah merupakan Versailes Jawa," kata Hagendorp.

BERITA JOGJA – Pola keruangan dan bangunan di Kota Jogja pada awal abad ke-19 membuat banyak orang Eropa terpesona. Seorang residen Belanda di Jogja lima tahun sebelum meletusnya Perang Diponegoro menggambarkan pesona Jogja sebagaimana dituliskan Peter Carey dalam Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785-1855.

Keistimewaan Jogja

Tugu menjadi ikon Jogja (Foto:Istimewa)

“Masa itu Yogya makmur, kaya dan indah, negeri subur dan mujur, ibu kota cantik dan asri penuh gedung-gedung bagus, taman-taman tertata rapi dan pesanggrahan-pesanggrahan yang bagus. Di mana-mana makanan dan air berlimpah. Kala itu, niaga dan kerajinan, dan produksi berkembang. Orang Jawa (Yogyakarta) merasa bangga dengan tempat kelahiran mereka,” tulis residen tersebut.

Apa yang digambarkan residen itu tidak berlebihan. Dari catatan yang ditemukan Peter Carey, Jogja pada awal abad ke-19 atau sebelum meletusnya Perang Diponegoro memang tiada duanya. Jogja bersih dan tertata rapi. Rumah-rumah penduduk, sekalipun terbuat dari bambu dan kayu hampir semuanya dicat putih dan asri dengan pekarangan yang ditumbuhi pohon buah dan perdu.

Pejabat tinggi Belanda, Sevenhoven yang main ke Jogja pada 1812 juga menggambarkan kekagumannya. Sepanjang jalan menuju Kraton terdapat pohon beringin rindang dengan rumah tinggal para pangeran dan pegawai. Ia juga melihat warung-warung milik penduduk Tionghoa yang tertata rapi yang di sebelah baratnya terdapat rumah besar dengan halaman berhias taman dan kolam besar. Dia juga menemukan pasar yang berada di sekeliling Benteng Vredeburg dalam keadaan bersih.

Namun saat meletusnya Perang Diponegoro pada 1820 banyak rumah-rumah yang dihancurkan sendiri oleh penghuninya. Dari catatan Van Hogendorp, banyak di antara pangeran dan pejabat tinggi Jogja yang telah lebih dulu menghancurkan tempat tinggalnya sebelum bergabung dengan Diponegoro. Meski telah banyak yang hancur, Hogendorp yang datang ke Jogja di tengah perang masih takjub dengan Jogja.

“Solo selalu memberi kesan yang luar biasa, tapi Jogja dalam masa kemuliaannya pastilah merupakan Versailes Jawa. Tidak sampai sepersepuluhnya yang utuh tapi (aslinya dulu) terlihat pada reruntuhan tembok yang besar=besaran,” tulisnya dalam Peter Carey.

Versailes sendiri merupakan Kota di sebelah barat Paris. Versailes sebelumnya juga pernah menjadi Ibu Kota Prancis. Banyak bangunan-bangunan kerajaan megah di sana.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar