Sekaten

Jogja Berkabung, Sekaten Tutup Total

Oleh Maya Eka,

Para pedagang sama sekali tidak keberatan, bahkan mengibarkan bendera setengah tiang sebagai tanda bela sungkawa

BERITA JOGJA – 27 tahun yang lalu, duka mendalam menyelimuti seluruh warga Jogjakarta. Segenap masyarakat di Jogja turut berkabung atas mangkatnya Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX. Raja Kraton Jogja yang dikenal dekat dengan rakyat tersebut menghembuskan nafas terakhir di Washington DC, Amerika Serikat.

Sekaten

Stan permainan di Sekaten sudah selesai dibangun. (Foto: Aristides)

Sri Sultan meninggal dunia saat masyarakat Jogja sedang merayakan Sekaten menyambut Maulud Nabi Muhammad SAW. Ketika kabar duka terdengar pada 2 Oktober 1988, suasana Sekaten yang tadinya penuh keceriaan langsung berubah duka. Seketika itu juga, Suwandono BA, selaku Ketua Harian I Perayaan Sekaten 1988, sebagaimana dimuat dalam SKH KR edisi 1988, memutuskan bahwa acara sekaten tetap berlanjut hingga jenazah tiba dari Amerika.

Hanya saja saat itu tidak diperbolehkan adanya suara-suara ketika malam hari, kecuali suara lantunan Al-Quran selama suasana berkabung. Beberapa stan yang berada di pinggir jalan terpaksa harus dibongkar guna kelancaran kedatangan jenazah nantinya.

Meski ada beberapa stan yang terpaksa dibongkar, para pedagang sama sekali tidak keberatan dengan hal tersebut. Bahkan mereka mengibarkan bendera setengah tiang sebagai tanda bela sungkawa. Acara Sekaten ditutup, ketika jenazah Sri Sultan Hamengkubuwana IX tiba di kraton.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar