Jogokariyan

Jogokariyan: Kampung Religi Pencetak Uztaz

Kampung Jogokariyan sempat ditinggali para juragan dan perajin batik sebelum masuknya batik cap ke Jogja

Jogokariyan

Kampung Jogokariyan Jogja. (Foto: Aristides)

BERITA JOGJA – Kampung Jogokariyan terletak di selatan Kraton Jogja, tepatnya di Jalan Jogokariyan (sekitar Jalan Parangtritis). Terletak di Kecamatan Mantrijeron, Kota Jogja, kampung ini berbatasan dengan kampung Mantrijeron di sebelah utara, Krapyak Wetan di sebelah selatan, Jalan Panjaitan di sebelah barat dan bebatasan dengan Jalan Parangtritis di sebelah timur.

Ditilik dari etimologi, nama Jogokariyan sendiri berasal dari gabungan kata dalam bahasa sansekerta, yaitu “jogo” berarti menjaga dan “karya” yang berarti tugas atau pekerjaan. Melihat karakteristik pembagian kampung di Jogja di era kejayaan kraton yang sesuai dengan profesi penduduknya, Kampung Jogokariyan dulunya merupakan salah satu kampung prajurit Kraton yang bertugas mengamankan pemerintahan.

Namun laiknya kampung-kampung lain di Jogja, Jogokariyan juga tak luput dari perubahan sosial. Kalau dulunya Jogokariyan merupakan kampungnya para prajurit, diketahui pada 1970, banyak pedagang dan juragan batik tulis yang bermukim di sana. Jazir, Ketua Umum Masjid Jogokariyan pada 2014 menceritakan bahwa pada tahun 1970-an, ekonomi masyarakat Jogokariyan termasuk tinggi, namun perlahan turun akibat masuknya batik cap ke Jogja.

Saat ini Kampung Jogokariyan terkenal sebagai kampung ramadhan di Jogja. Adanya pasar kue ramadhan yang dipercaya sebagai kali pertama di Jogja ditambah kegiatan Masjid yang jadi pusat kegiatan warga jadi pemicunya. Di Kampung ini, Masjid Jogokariyan memang sudah seterkenal pasar kue ramadhan. Saat bulan puasa, masjid ini-barangkali satu-satunya yang menggelar shalat tarawih model Madinah.

Jogokariyan

Pasar Ramadan Kampung Jogokariyan menyajikan makanan lezat dan higienis. (Foto: Aristides)

“Masjid Jogokariyan ini berdiri tahun 1967. Namanya diambil dari kampung. Karena banyaknya santri yang mengaji tahun 1966, masjid makin ramai dan akhirnya diresmikan tahun 1967,” cerita Jazir.

Setelah diresmikan masjid makin ramai. Ratusan orang-orang mulai berkegiatan di sana setiap harinya dan membuat masjid diperbesar. Menurut catatan Jazir, sudah tiga kali masjid mengalami perbesaran yaitu tahun 2001, 2003, dan 2005. Berpusatnya kegiatan warga kampung ini sangat menarik. Kegiatannya pun membuat orang di luar tertarik saat menyaksikannya lalu perlahan ikut.

Ada lomba tarawih, bedug keliling, festival onthel, wedhangan setelah shalat subuh, sampai yang paling unik adalah penggantian sandal dan sepatu yang hilang. Bagi warga yang sandalnya hilang di masjid akan diganti sesuai harga sandal. Kegiatan yang berpusat di masjid ini membuat para warga sangat rajin beribadah. Tak heran jika Kampung Jogokariyan juga disebut-sebut sebagai daerah pencetak ustaz di Jogja. Bahkan beberapa nama sudah menuju nasional, seperti Ustaz Jazir (penasehat Sultan HB X), Ustaz Salmafillah, Ustaz Shofwan Al Bana, Fatan Fantastik, dan Fanni Rahman.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar