Kecemburuan Sosial dan Banyak Kompor Bikin Jogja Rawan Konflik

Oleh Kresna,

BERITA JOGJA – Keberagaman di Jogjakarta sudah lama terpelihara dengan baik. Namun akhir-akhir ini mulai bibit-bibit kecemburuan sosial dan juga kecurigaan sosial antara penduduk asli dengan pendatang. Menurut Sosial Kriminilog UGM, Suprapto  kondisi tersebut berpotensi memicu konflik, apalagi saat ini sudah mulai muncul pengompor di masyarakat. Jika melihat kasus pengerusakan Polsek Gedongtengen dan respon masyarakat […]

BERITA JOGJA – Keberagaman di Jogjakarta sudah lama terpelihara dengan baik. Namun akhir-akhir ini mulai bibit-bibit kecemburuan sosial dan juga kecurigaan sosial antara penduduk asli dengan pendatang.

ilustrasi konflik

Ilustrasi

Menurut Sosial Kriminilog UGM, Suprapto  kondisi tersebut berpotensi memicu konflik, apalagi saat ini sudah mulai muncul pengompor di masyarakat. Jika melihat kasus pengerusakan Polsek Gedongtengen dan respon masyarakat yang terjadi pada Kamis (28/5), dia melihat ada oknum yang memperkeruh kondisi.

“Kita lihat kasus kemarin pengerusakan Polsek Gedongtengen, harus jeli siapa pelakunya, bagimana masyarakat merespon. Di Gedongtengen itu masyarakatnya kompleks, ada pendatang, ada penduduk asli. Banyak pengompor masyarakat, bermula dari kecemburuan sosial,” katanya pada wartawan melalui sambungan telpon, Sabtu (30/5).

Selain itu kecemburuan sosial dan para pengompor tersebut, Suprapto melihat faktor perbedaan kultur pendatang juga membuat semakin rentan.

“Misal kita lihat persebaran kampus, ada UKDW (Universitas Kristen Duta Wacana) yang banyak pendatang mahasiswa yang agamanya berbeda dengan penduduk, selama ini tidak masalah, tapi begitu ada masalah bisa jadi akan membesar,” ujarnya.

Halaman

1 2

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar