Kecewa Dengan Pergantian Gelar Sultan, Mantan Kajari Jogjakarta Kembalikan Surat Kekancingan

BERITA JOGJA – Penghapusan kata Khalifah dalam gelar Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X menimbulkan berbagai respon dari masyarakat. Salah satu yang merespon penghapusan gelar tersebut adalah mantan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Jogjakarta, Kardi, SH. Sebelumnya Kardi mendapatkan surat kekancingan dari Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 31 Agustus 2011 dan mendapatkan gelar Mas Wedana […]

BERITA JOGJA – Penghapusan kata Khalifah dalam gelar Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X menimbulkan berbagai respon dari masyarakat. Salah satu yang merespon penghapusan gelar tersebut adalah mantan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Jogjakarta, Kardi, SH. Sebelumnya Kardi mendapatkan surat kekancingan dari Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 31 Agustus 2011 dan mendapatkan gelar Mas Wedana Nitikartya.

Mantan kepala Kejari Jogjakarta, Kardi, SH. saat mengembalikan surat Kekancingan. Kamis, (7/5). (Foto: Cahyo P.E)

Mantan kepala Kejari Jogjakarta, Kardi, SH. saat mengembalikan surat Kekancingan. Kamis, (7/5). (Foto: Cahyo P.E)

Sebagai respon atas pergantian gelar tersebut, Kardi pun memilih mengembalikan serat kekancingan yang diterimanya dari Sri Sultan HB X. Pengembalian serat kekancingan tersebut dilakukan di Ndalem Yudonegaran, Kamis (7/5) siang dan diterima oleh GBPH Cokrodiningrat yang didampingi oleh GBPH Prabukusumo.

“Saya tidak ingin mencampuri urusan internal Kraton. Namun sebagai abdi dalem, saya mengaku kecewa dengan pergantian gelar Sultan. Gelar Sultan tersebut sudah digunakan sejak Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan HB I paska disahkannya Perjanjian Giyanti. Penghapusan gelar tersebut berarti Sultan yang sekarang tidak sah karena namanya tidak sesuai dengan Perjanjian Giyanti,” terang Kardi kepada media.

Kardi menambahkan bahwa saat ini Raja Kraton sudah tidak mengayomi dan mengayemi rakyatnya. Karenanya, Kardi pun kemudian mengembalikan serat kekancingannya.

“Buat apa menjadi abdi dalem jika rajanya sudah tidak mengayomi dan mengayemi. Padahal sebagai wong cilik, saya ingin menjadi abdi dalem karena ingin merasa ayem dan diayomi oleh rajanya,” tegas Kardi.

Selepas menerima pengembalian serat kekancingan dari Kardi, GBPH Candraningrat mengatakan bahwa dirinya menerima pengembalian tersebut karena merupakan kehendak yang bersangkutan. “Yang bersangkutan sudah ikhlas mengembalikan dan merasa ada yang salah dengan penghapusan gelar Sultan. Kami pun menerimanya,” terang GBPH Candraningrat.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar