Replika tugu mini di Monumen Tugu Pal Putih (Foto: Azka Maula)

Kejutan Warga Jogja yang Bikin Panas Jakarta Tahun 1992

Pemerintah Orde Baru (Orba) di Jakarta tahun 1992 kebakaran jenggot. Jogja, kota yang dalam benak antek Orba adem anyem, tiba-tiba jadi kota protes.

BERITA JOGJA – Pemerintah Orde Baru (Orba) di Jakarta tahun 1992 kebakaran jenggot. Jogja, kota yang dalam benak antek Orba adem anyem, tiba-tiba jadi kota protes.

Sebagian warga Jogja kala itu tampaknya sudah tidak tahan dengan kepalsuan yang disemai Orba di jalanan. Etika, moral, dan perilaku pancasilais yang disuntikkan terus menerus lama-lama mengekang kebebasan berpendapat dan mematikan kreativitas banyak pihak. Saat masa kampanye Pemilu 1992, sebagian warga mengejutkan keteratuan yang sudah didesain pemerintah di Orba dengan cara-cara yang menuai simpati.

Replika tugu mini di Monumen Tugu Pal Putih (Foto: Azka Maula)

Replika tugu mini di Monumen Tugu Pal Putih (Foto: Azka Maula)

Kejutan pertama datang dari simpatisan Partai nomor tiga. Simpatisan ini mengajak waria dalam menggelar kampanye. Para waria, yang sebelumnya disembunyikan dan dilabeli amoral oleh pemerintah Orba melalui wacana-wacana kemasyarakatan tampil di depan umum tanpa malu-malu.

Para waria tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk-duduk di atas becak yang mendapat respon positif dari mereka yang menonton kampanye. Banyak juga yang menyapa para waria dan mengajak mereka ngobrol hangat. Peristiwa ini dicatat Budi Susanto dalam Peristiwa Yogya 1992. Tidak ada komando, tidak dibayar, malah iuran untuk membeli atribut kampanye.

Lalu di saat bersamaan muncul Koran Kampung yang berisi kritik pemerintah dan jeritan suara hati rakyat Jogja yang dibuat komunitas-komunitas. Koran Kampung ini muncul di sepanjang Jalan Taman Siswa, Jalan Mataram, maupun di Jembatan Kewek.

“Inilah yang ada dalam hati kami,” “Bekerja demi seragam anak,” untuk mengutip warna-warni headline di Koran Kampung. Di jalan Malioboro, terdapat Koran Kampung dengan judul “Omahku saka gedek, ning aku ora rai gedek,” untuk menyindir pencalonya Suharto yang kesekian kalinya.

Situasi ini membuat pemerintah di Jakarta terbakar. Muncul perintah bagi kepolisian dan tentara berkeliling kota Jogja memberi imbauan pada warga untuk tidak berbuat aneh-aneh.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar