Kongres Perempuan

Ketika Perempuan Jogja Lebih Beradab dari Laki-Laki

Oleh Jatu Raya,

Kaum feminis Eropa mendadak tersinggung dengan kesuksesan kongres ini.

BERITA JOGJA – Kongres Permepuan yang berlangsung 22 Desember 1928 di Jogja merespon sumpah pemuda 28 Oktober 1928. 600 perempuan, berpendidikan atau tidak berpendidikan hadir dalam kongres yang berlangsung di Pendopo Dalem Jayadipuran (sekarang jadi Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Jogjakarta), milik bangsawan Joyodupoero yang berada di Jalan Brigjen Katamso.

Kongres Perempuan

Dokumen Wartafeminis

Bersama tamu undangan yang lain, konferensi ini menjadi penegasan keterlibatan perempuan dalam penyatuan bangsa. Sekalipun dibuka dengan lagu Bahasa Jawa ciptaan Soekaptinah, masing-masing perwakilan komunitas perempuan yang berpidato menggunakan bahasa melayu, tidak lagi bahasa jaa atau daerah lainnya. Susan Blackburn dalam “Kongres Perempuan Indonesia” menuliskan bahwa kongres ini mengejutkan Eropa.

Kaum feminis Eropa mendadak tersinggung dengan kesuksesan kongres ini karena terkesan membedakan identitas dengan meyerakkan hanya untuk perempuan kaum pribumi. Padahal banyak perempuan Eropa di Jogja yang punya pemikiran sama tapi tidak diikutkan dalam kongres. Namun, kaum feminis juga terhenyak dengan kesuksesan kongres karena surat kabar di Belanda dan Eropa memuat tentang kesuksesan kongres tersebut.

Susan Blackburn juga mencatat kekaguman Hindia Belanda terhadap kongres itu. Kekaguman ini dikisahkan Pejabat Penasihat Urusan Pribumi, van Der Plas dalam laporannya ke Gubernur Jenderal. Der Plass mengisahkan bahwa kongres di Jogja pantas diberikan ucapan selamat karena pendekatan yang dilakukan kaum perempuan lebih beradab dan terhormat ketimbang para laki-laki. Laporan ini ditulis berdasar kesaksian istri Patih Datoek Toemenggung yang ditugaskan menjadi mata-mata dalam kongres.

Kongres Perempuan 1928 yang digagas tokoh-tokoh pergerakkan nasional ini dicatat sebagai tonggak sejarah pergerakkan perempuan Indonesia oleh surat kabar dan pejabat nasional. Surat kabar “Sedijo Tomo” misalnya terang-terangan menyatakan kekagumannya namun memberi pandangan bahwa gerakkan perempuan ini jangan sampai kehilangan ciri ketimuran.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar