Ilustrasi kerusuhan (Dok Istimewa)

Kisah Anak Muda Jogja Melawan Orde Baru Tahun 1992

Keranda mayat diarak ke depan kantor DPRD dan melewati Malioboro yang selama ini dilarang untuk dijadikan area pawai.

BERITA JOGJA – Anak muda Jogja sejak puluhan tahun lalu terkenal kritis dan berani melawan hal-hal yang mengganggu kreativitas. Tahun 1992 misalnya. Di tengah Pemilu, muncul peristiwa yang cukup mengejutkan dari anak muda Jogja dan menampar keras pemerintahan Orde Baru (Orba): Peristiwa Jogja 1992.

Ilustrasi kerusuhan (Dok Istimewa)

Ilustrasi kerusuhan (Dok Istimewa)

Malam tanggal 20 Mei 1992, sebuah mobil berpengeras suara tiba-tiba berkeliling Jogja. Mereka mengumumkan Surat Keputusan (SK) Gubernur Jogjakarta dengan keras. Pertama, Mulai Kamis 21 Mei 1992 dilarang menggunakan sepeda motor untuk berkampanye. Kedua, siapapun yang melanggar akan kena tilang.

Pemerintah daerah, dengan terusan dari pusat menyatakan bahwa pelarangan itu diumumkan untuk menghindari Pemilu dari cara kampanye brutal seperti kampanye sepeda motor. Siang harinya, pemerintah lega karena tidak ada kampanye sepeda motor di Jogja. Namun, ketika pengamanan melonggar sehari setelahnya, muncul kejadian yang mengejutkan. Kota Jogja tiba-tiba bersih dari alat peraga kampanye Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Alat peraga kampanye diganti kain kafan tanda berkabung atas kematian pesta demokrasi di Indonesia yang melulu menempatkan Golkar sebagai satu-satunya partai pas untuk masyarakat. Lalu tiba-tiba ratusan anak muda keliling Kota Jogja dengan sepeda motor sambil mengibarkan bendera putih tersebut. Mereka juga spontan mengarak keranda mayat ke depan kantor DPRD dan melewati Malioboro yang selama ini dilarang untuk dijadikan area pawai.

Hamzah Haz, Ketua PPP saat itu memberikan komentarnya di Bernas edisi 2 Juni 1992. Ia menyatakan Peristiwa Jogja kemarin adalah spontanitas anak muda, bukan intruksi dari partainya maupun PDIP. Spontanitas itu muncul karena muak dengan Pemilu yang lagi-lagi tidak jujur dan adil.

Kemuakkan lainnya oleh anak muda Jogja dianalisis oleh Budi Santoso SJ dalam Peristiwa Yogya 1992. Anak muda Jogja muak karena selama ini ada kekuatan dari luar Jogja yang mengatur kehidupan sehari-hari. Puncaknya ketika waktu pencoblosan tercatat banyak orang tua yang bekerja sebagai PNS mendapati anak-anak mereka tidak mencoblos Golkar.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar