Si Pitung (Foto: Historia.id)

Kisah Detektif Hinne, Saingan Sherlock Holmes dari Tanah Jawa

Oleh Jatu Raya,

Meski hanya seorang juru tulis, Hinne sering dimintai tolong kepolisian Belanda memecahkan kasus-kasus rumit.

BERITA JOGJA – Para pejabat dan kepolisian Pemerintah Hidia Belanda dari keresidenan Bojonegoro sampai Batavia nyaris tahu tentang sosok Sherlock Holmes. Tokoh rekaan karya Sir Arthur Conan Doyle ini jadi bacaan yang menyenangkan para polisi Hindia Belanda di Indonesia sejak kali pertama terbit pada 1887 hingga 1900-an.

Ilustrasi Detektif. (Dok Istimewa)

Ilustrasi Detektif. (Dok Istimewa)

Kepolisian Hindia Belanda sendiri punya sosok cerdas yang selalu dibanding-bandingkan dengan Sherlock Holmes. Ia bernama Toewan Schout Hinne, seorang juru tulis pembukuan di residen Bojonegoro yang sering membantu kasus-kasus rumit kepolisian Hinda Belanda.

Penulis Belanda, Wiggers dalam Boekoe Peringatan tjeritain dari halnya seorang prampoewan Islam Tjeng Kao bernama Fatima menuliskan kecerdasan Hinne. Setiap kasus rumit yang dibantu Hinne, menjadi terang benderang, tulis Wiggers dikutip Rudolf Mrazek dalam Engineers of Happy Land. Karena hal itu pula sebagai juru ketik Hinne mendapat gaji yang besar dan dipindah dari Bojonegoro ke Rembang.

Hindia Belanda mulai membandingkannya, bahkan sebagian percaya Hinne lebih hebat dari Sherlock Holmes ketika diutus ke Batavia memecahkan kasus pembunuhan anak Nyai Dasimah, Fatima. Dituliskan Weggers, pembunuhan Fatima terjadi pada 23 Februari 1908 di rumahnya.

Lehernya disayat benda tajam laiknya penjagal menyembelih kambing. Mayat Fatima terkapar dekat dinding kamar. Hinne melihat dalam kamar itu ada meja yang diatasnya tegak satu botol anggor Portugis dengan dua gelas. Di kamar itu juga ditemukan semacam kapur yang diduga racun.

Tanpa kesulitan Hinne melakukan penyelidikan laiknya Sherlock Holmes. Namun Hinne punya metode yang cukup ampuh untuk menginterogasi orang. Ia memainkan fisik sampai psikis orang hingga mendapatkan informasi. Saat berhasil menangkap pelaku, Hinne tak mau membuat malu para petugas polisi dengan tak mau mengklaim diri sebagai penemu Sang pembunuh. Namun, perwira polisi akhirnya tahu juga berkat menyebarnya kabar dari mulut ke mulut.

Hinne sendiri mendapat penghargaan tinggi atas jasanya itu. Catatan dalam buku Wiggers itu pun dipublikasikan dan laris manis di Belanda. Jika Inggris punya Sherlock, kata orang-orang Belanda, maka kerajaan Belanda punya Detektif Hinne. Lama-lama ia pun menjadi populer.

Halaman

1 2

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar