Ilustrasi jago pendekar (Istimewa)

Kisah Gentho dan Jago Jogja Tempo Doeloe

Para gentho dan jago ini disebut Social Bandits karena dekat dengan rakyat kecil.

BERITA JOGJA – Gentho atau preman di Jogja Tempo Doeloe banyak terdapat di pedesaan. Istilah gentho merujuk pada seseorang yang ditakuti sekaligus dihormati di pedesaan Jogja yang rata-rata ikut kelompok perampok. Sedangkan pemimpin perampoknya disebut jago dan juga tokoh terkemuka di pedesaan tersebut.

Ilustrasi jago pendekar (Istimewa)

Ilustrasi jago pendekar (Istimewa)

Dunia pergenthoan dan jago di Jogja bisa ditemukan sejak awal Abad 19 sebelum dan saat pecahnya Perang Diponegoro. Seperti yang dikisahkan Peter Carey dalam Kuasa Ramalan, jago biasanya punya ilmu kanuragan dan mempan senjata api. Sebelum Perang jawa pada 1820, jago-jago pedesaan menyediakan jasa perluasan batas desa. Saat Perang Jawa, mereka diangkat Pangeran Diponegoro menjadi komandan tentara di wilayah masing-masing.

Selama perang pula, gentho dan para jago ini sangat dekat dengan rakyat. Penduduk yang rata-rata merupakan buruh tani bahkan melindungi mereka dari kejaran Belanda. Para jago ini, sebagaimana dituliskan Peter Carey, disebut social bandits karena membela rakyat dan memusuhi para pedagang Tionghoa yang kala itu hobi memungut cukai jalan raya dan menjadi bandar.

Di abad 19, hampir setiap desa punya gentho dan jago. Namun para jago yang ditakuti jago lainnya banyak menempati wilayah kaki pegunungan dan pinggiran sungai. Contohnya saja di kaki Gunung Merbabu yang masih menjadi kekuasaan Kraton Jogja kala itu, lalu di Desa Tempel, juga pinggiran Sungai Progo. Mereka merampok Belanda dan orang-orang kaya lalu dibagikannya pada penduduk desa.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar