Kisah Mahasiswi Jogja yang Mengalami Stockholm Syndrome

Oleh azkamaula,

"Saya pernah disundut obat nyamuk sama dimarah-marahi di depan umum," kisah NJ.

BERITA JOGJA – Punya pacar yang suka main kekerasan, dari fisik sampai psikis bagi sebagian orang sangat menyebalkan. Bawaannya enggak betah dan tersiksa. Tapi bagi sebagian orang lagi malah sebaliknya. Keterbiasaan menjadi korban kekerasan melahirkan rasa empati dan pemahaman batin luar biasa yang berdampak pada semakin tumbuhnya rasa cinta.

Ilustrasi Stockholm Syndrome (Dok Aida)

Ilustrasi Stockholm Syndrome (Dok Aida)

Dalam kaca mata psikologis, situasi yang dialami sebagian orang tersebut masuk kategori Stockholm Syndrome. Umumnya terjadi pada mereka yang punya pacar possesif banget. Mengisolasi pasangan dari pergaulan dan melakukan tindakan kasar yang diakhiri dengan permintaan maaf.

“Fase yang muncul kemudian adalah rasa empati. Kita jadi empati atas perbuatannya dan mulai memahami bahwa perbuatan kasar pasangan itu gara-gara kita. Kalau dikasari kita tiba-tiba maklum lalu terbiasa dan maiin nyaman dengan perasaan itu karena merasa kita yang bisa mengasihi dia,” jelas Nugrahaeni Ariati, Psikolog remaja.

NJ, mahasiswi salah satu Universitas Negeri di Jogja misalnya sempat mengalami syndrome ini. Mahasiswi asal Kuncen ini mengisahkan mengalaminya dua tahun lalu.

“Saya pernah disundut obat nyamuk sama dimarah-marahi di depan umum. Selalu marah-marah lalu HP saya diambil dan boleh main HP lagi kalau ketemu dia. Tapi waktu itu jujur saya senang-senang aja sama perlakuannya. Puji Tuhan saya disadarkan teman pas lihat bekan sundutan rokok dan cek ke psikolog di Bumijo,” ceritanya.

Lain lagi dengan VW, mahasiswi asal Ambarawa yang berkuliah di salah kampus swasta di Jogja. Saat ini dirinya masih menjalani hubungan sama pacarnya yang nyaris tidak pernah memberikannya kebebasan. “Saya enggak tahu kalau kena Stockholm Syndrome soalnya enggak tahu kenapa saya kasihan kalau meninggalkan dia. Dia sayang sama saya karena itu dia main kasar, saya enggak bisa nolak karena sayang juga,” kisahnya ditemui di sebuah Cafe bilangan Karang Malang.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar