Ilustrasi mata-mata (Dok Istimewa)

Kisah Mata-Mata Kerajaan Mataram Membunuh Gubernur Belanda

Oleh Maya Eka,

Salah seorang mata-mata yang diberi tugas untuk membunuh Sang GubernurJendral adalah Nyimas Utari Sanjaya Ningrum

BERITA JOGJA – J.P.Coen menjadi salah satu Gubernur-Jendral tersukses di Hindia-Belanda. Namanya mulai dikenal luas setelah sukses merebut Jakarta dan menjadikannya benteng VOC, yang kemudian diberinama Batavia.

Selama hidupnya, J.P.Coen mengalami dua kali perang besar melawan Kerajaan Mataram yang kala itu dipimpin Sultan Agung. Raja Mataram kala itu ingin mengusir Belanda dari pulau Jawa. Namun beberapa pihak mengatakan bahwa upaya penyerangan Batavia adalah salah satu usaha Sultan Agung untuk bisa menaklukan Banten. Letak Batavia dianggap sebagai batu sandungan untuk mewujudkan keinginan Sang Raja Mataram.

Ilustrasi mata-mata (Dok Istimewa)

Ilustrasi mata-mata (Dok Istimewa)

Penyerbuan pasukan Mataram ke Batavia, yang dikenal dengan Perang Batavia pertama, terjadi pada 1628. Dalam penyerangan itu pasukan Mataram mengalami kekalahan telak lantaran kekurangan perbekalan. Serangan kedua dilakukan pada Mei 1629. Dalam serangan yang kedua Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo lebih matang dalam mempersiapkan serangan.

Dalam serangan kedua, Sultan mengerahkan empat belas ribu prajurit. Tidak hanya prajurit tempur. Dalam serangan kedua, Sultan Agung memerintahkan para intelejen Mataram untuk bergerak. Intelejen yang dikirim oleh Sultan Agung adalah orang-orang terbaik. Mereka diberi tugas untuk menghancurkan pertahanan Belanda dan membunuh Gubernur-Jendral J.P.Coen.

Salah seorang intelejen yang diberi tugas untuk membunuh Sang Gubernur-Jendral adalah Nyimas Utari Sanjaya Ningrum yang memiliki nama asli Nyimas Utari Sandijayaningsih. Dalam menjalankan tugasnya Nyimas Utari harus bermitra dengan Mahmuddin, seorang agen asal Samudra Pasai yang memiliki nama sandi Wong Agung Aceh.

Nyimas Utari dan Mahmuddin berhasil menyamar dan mendekati J.P.Coen sebagai pebisnis. Mereka dipercaya oleh J.P.Coen untuk mengangkut meriam dari Madagaskar. Karena kedekatan itu, mereka memiliki akses untuk bisa sampai ke kastil tempat Gubernur-Jenderal tinggal.

Saat perang Batavia II meletus, kepanikan terjadi di Batavia. Hal tersebut dimanfaatkan oleh Nyimas Utari untuk menghabisi nyawa J.P.Coen. Seorang sejarawan asal Jogja, Ki Herman Janutama, yang mengutip dari Babad Jawa, membenarkan adanya pergerakan intelejen Mataram guna menghabisi nyawa J.P.Coen. Menurut Ki Herman, tugas itu pun dilaksanakan dengan baik, meski pada akhirnya Nyimas Utari harus gugur.

Ki Herman juga menjelaskna bahwa untuk orang awam, mungkin akan tidak percaya bahwa Mataram sudah memiliki kesatuan intelejen yang terorganisir. Namun bagi orang-orang yang biasa berurusan dengan manuskrip-manuskrip tua dan cerita lisan yang turun-temurun dari berbagai generasi hal tersebut sudah biasa.

Setelah berhasil memenggal kepala J.P.Coen, Nyimas Utari membawa kepala Sang Gubernur-Jendral untuk diserahkan kepada Sultan Agung. Namun dalam pelariannya Nyimas Utari harus gugur lantaran tembakan beruntun meriam pasukan VOC.

Meski Nyimas Utari gugur, kepala J.P.Coen masih tetap dibawa ke Mataram oleh kesatuan tentara Mataram melalui jalur Pantai Utara. Setalah sampai di Mataram, Sultan Agung memerintahkan agar kepala J.P.Coen ditanam di barisan anak tangga menuju makam raja-raja Jawa di Imogiri pada baris ke-716.

Menurut Ki Herman, hal tersebutlah kenapa sampai saat ini masih ada beberapa peziarah yang tahu akan cerita tersebut selalu berhenti di anak tangga ke-716 dan menginjak-injak anak tangga tersebut sembari menyumpahi arwah J.P.Coen.

Dalam versi lain, dikatakan bahwa meninggalnya J.P.Coen bukan karena dipenggal oleh agen telik sandi Mataram, melainkan karena penyakit kolera.  Kalangan sejarawan Belanda sepakat bahwa kematian J.P.Coen disebabkan karena penyakit kolera yang kala itu sedang mewabah di Batavia, lantaran pasukan telik sandi Mataram berhasil membendung dan mencemari Sungai Ciliwung.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar