Kisah Mereka yang Masih Curhat di Diary Ketimbang Medsos

Oleh azkamaula,

Masih ada yang tetap mempertahankan cara lama untuk curhat ketika tidak ada teman cerita: Diary

BERITA JOGJA – Curhat adalah salah satu kebutuhan manusia. Menceritakan masalah terpendam secara psikologi mampu mengurangi beban psikis yang berdampak pada timbulnya stres. Secara psikologis melampiaskan permasalahan yang terpendam mampu membangun ketahanan seseorang terhadap stres.

“Ketahanan psikis seseorang terhadap stres itu beda-beda. Makanya sangat butuh sekali ruang untuk membagi cerita atau masalah. Bisa ke teman dekat atau bahkan ada juga yang lega setelah membaginya di media sosial. Kalau zaman saya dulu kebanayakan kalau enggak ke teman ya diary,” kata Nungraheni Ariati, Psikolog UII.

ilustrasi diary (Dok.Istimewa)

ilustrasi diary (Dok.Istimewa)

Ruang curhat seperti kata Nugrahaeni dalam konteks kekinian memang macam-macam. Contohnya saja di media sosial Facebook yang punya banyak ruang buat curhat. Baik di kolom status atau di note. Tapi saat ini masih ada orang-orang yang tetap mempertahankan cara lama untuk curhat ketika tidak ada teman cerita: Diary.

“Aku bisa puas bilang apa saja di diary. Mau ngata-ngatain orang yang kubenci atau yang lagi bermasalah sama aku. Bebas di dairy daripada Facebook atau Path. Aman juga. Kalau sudah nulis di diary aku bisa lega saja,” kisah Amara Chaliq, mahasiswi Kedokteran UGM.

Meski dianggap kuno, menulis di diary, sambung Paramitha Widuri Strawbridge, mahasiswi UPN Jogja jadi salah satu cara teraman berkeluh kesah. Soalnya diary bisa ditaruh di tempat paling rahasia di kamar. “Kalau di lepi nanti bisa dibuka-buka teman. Kalau di FB, nanti kesannya gimana gitu. Lebih baik aku di diary, lebih aman dan puas. Puas sampai pegal tangannya nulis,” kisahnya ditemui di cafe kawasan Seturan.

Kisah lainnya datang dari Erdita Kusantoro, mahasiswi UMY. Dari kecil, Dita, panggilan kesayangannya memang sudah hobi menulis di diary. Ini terbawa sampai dirinya menempuh semester akhir saat ini. Menurutnya, curhat di dairy tidak merepotkan orang.

“Aku jarang curhat ke teman dekat, Paling juga jadi pendengar saja. Kasihan kalau orang aku repotin curhat. Kalau di FB, sama saja aku menunjukkan kelemahanku. Pakai diary lebih nyaman dan aman juga rahasia banget,” kisahnya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar