Kisah Munculnya Ciblek Alias Cilik-Cilik Betah Melek di Jogja

Adanya fenomena di Alun-Alun Kidul membuat akronim ciblek bukan lagi cilik-cilik betah melek namun jadi cilik-cilik isa digemblek.

BERITA JOGJA – Ciblek sebenarnya adalah nama burung yang punya sifat dan morfologi yang unik. Burung Ciblek umumnya berbadan kurus dan punya bulu yang lembut. Suaranya merdu dan sering diikutkan kontes.

Istilah ini muncul di pertengahan tahun 80-an dan beken tahun 90-an sampai 2000-an di Jogja. Ciblek ini dilekatkan pada perempuan remaja yang sering nongkrong malam. Remaja perempuan yang sering sekali keluyuran malam di tahun-tahun 80-an bisa dibilang sangat jarang. Apalagi dengan propaganda etika Orde Baru yang mengakomodasi feodal Jawa bahwa perempuan remaja pamali kalau keluar malam.

Ilustrasi Anjelo (Istimewa)

Ilustrasi Anjelo (Istimewa)

Mereka yang menantang etika, tanpa tedeng aling-aling disebut ciblek yang akronimnya Cilik-Cilik Betah Melek. Akronim ini tambah melekat ketika muncul fenomena remaja yang mulai menjajakan diri di sejumlah tempat di Jogja pada tahun 90-an. Misalnya saja di Alun-Alun Selatan.

“Awalnya kan memang untuk perempuan yang suka keluar malam. Pasti dituduhnya jelek. Pas sekali tahun 90-an sampai 2000-an sebelum ada becak-becakan sama sepeda-sepedaan itu banyak di sini (Alun-Alun, muncul banyak remaja yang jadi nganu. Biasanya di warung-warung. Mereka akhirnya disebut ciblek juga tapi beda maksud, ” kisah Suratmin, seorang warga di Patehan.

Adanya fenomena itu membuat akronim ciblek bukan lagi cilik-cilik betah melek namun jadi cilik-cilik isa digemblek. Para remaja ini menjajakan diri di luar wilayah Balokan (sekarang Sarkem) yang sudah dikuasai oleh perempuan dewasa. Apalagi Jogja saat itu sudah tumbuh menjadi kota wisata dan pendidikan yang didatangi oleh banyak pendatang. “Kalau ceritanya sih karena dorongan ekonomi banyak remaja yang nongkrong di sejumlah warung di Alkid. Buat bayar kos, buat ini, buat itu. Rata-rata memang usia belasan, semester awal mungkin,” tambah Suratmin.

Di luar istilah ini, remaja yang masuk dunia prostitusi sebenarnya sudah lama ada di Jawa. Seperti yang dikisahkan Hull dan Terrence dalam Sejarah Pelacuran di Indonesia: Sejarah dan Perkembangannya, remaja sudah menjadi bagian dari pelacuran sejak zaman kerajaan nusantara hingga Jepang.

Sistem feodal mengakomodis para remaja yang menjajakan diri. Di zaman Belanda, banyak remaja perempuan yang dijadikan pemuas biologis para sinyo merasa nyaman karena diberi banyak barang. Mereka lebih suka berada di pelukan orang Belanda yang lembut dan pengasih daripada orang Jepang yang kasar.

Istilah ciblek sendiri merupakan tandingan dari akronim Perek yang ada di Ibu Kota. Perek sendiri akronim dari Perempuan Eksperimental yang di era 80-an didominasi remaja dengan ekonomi menengah ke bawah.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar