Kisah Orang-Orang Jogja yang Sukses Move On Setelah Ditinggalkan

Oleh azkamaula,

Curhat orang-orang Jogja yang sudah bisa move on setelah menahun terjebak di masa lalu.

BERITA JOGJA – Banyak kisah yang dijadikan pelajaran dan meyakinkan orang-orang susah move on di luar sana. Meski enggak mudah buat move on dari orang yang meninggalkan atau ditinggalkan karena sesuatu sebab, mereka berhasil dan sekarang sudah adem anyem dengan pasangannya masing-masing.

Aristides, wartawan musik asal Jogja ini contohnya, sukses move on dari orang yang meninggalkannya dalam waktu dua tahun. Aris, sapaan akrabnya, mengisahkan, dirinya ditinggalkan oleh pacarnya yang dijodohkan orang tuanya karena menyandang beban status sosial tinggi.

Move On (Dok.Istimewa)

Move On (Dok.Istimewa)

“Dulu dia kan punya gelar gitu di depan namanya. Jadi orang dengan gelar itu harus menikah dengan orang-orang yang punya gelar sama. Waktu itu kami backstreet karena latar sosial dan agama orang tuanya melarang pacaran. Suatu saat saya ingin datang ke rumahnya buat melamar, tapi pas mau berangkat, dia nelpon kalau dijodohkan,” kenang Aris lalu tertawa.

Aris membina hubungan selama tiga dengan kekasihnya itu. Butuh tiga tahun bagi Aris untuk move on dan membuka diri ke orang lain. Ada tiga hal yang ia lakukan biar “sembuh”. Pertama mengakui kalau dirinya kalah dan menerima keadaan. Kedua, mulai mendekatkan diri pada Tuhan. Terakhir, memahami bahwa keputusan yang diambil kekasihnya itu berat dan sulit lalu mendoakan.

“Saya baca Surah Al Insyirah terus setiap malam agar dibukakan mata dan hati supaya menerima keadaan. Awalnya berat banget, banget. Kadang nangis dan keinget. Tapi namanya hidup, ya kudu harus jalan dan perlahan saya bisa menerima. Pun dengan dia,” ceritanya.

Ilham Kesuma, guru musik sekolah swasta di Jogja bisa membuka diri dalam waktu satu tahun. Menurutnya itu waktu yang realtif lama usai ditinggalkan kekasihnya dengan cowok lain. “Awalnya diselingkuhin, saya tahu sudah enam bulan diselingkuhi. Dia berat mutusin saya karena sudah pernah ketemu nenek saya di Pajangan. Tapi akhirnya putus juga,” kenangnya.

Selama masa sendiri, Ilham menyadari bahwa emosinya tidak stabil. Kadang ia merasa sedih lalu marah-marah sendiri. “Ada teman yang menyarankan untuk memindahkan emosi saya ke kerjaan. Saya bikin lagu, bikin musik, sehari bisa dapat tiga. Tapi jangan terlalu hanyut juga, biar seimbang. Akhirnya ya satu tahun saya sudah bisa menerima lah,” kenangnya lagi.

Lain lagi dengan Eviyanti, salah seorang karyawan perusahaan asuransi di Jogja. Ia pacaran selama 15 tahun dengan kekasihnya, lalu putus saat hendak membicarakan pernikahan. “Kami putus dan tidak pernah ketemu lagi selama lima tahun. Menderita banget selama lima tahun itu. Tiap hari rasanya sakit banget. Tapi entah kenapa kami ketemu lagi terus menikah di usia kami yang sudah kepala empat,” kisah Evi.

Ia berpesan agar orang-orang jangan sampai terjebak seperti dirinya yang ketika terpisah mencari orang yang sama sifat dan wataknya dengan suaminya sekarang. “Manusia enggak ada yang ideal. Semuanya beda dan punya ciri khasnya masing-masing. Terima ada adanya saja, jangan sampai seperti saya yang terlalu lama terjebak meski pada akhirnya doa dijawab Tuhan,” kenangnya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar