Painem sedang meracik Ronde dagangannya (Foto: Cahyo)

Kisah Pedagang Ronde Legendaris Jogja Bersama Soeharto

Oleh Jatu Raya,

"Kalau anak Pak Harto enggak pernah mesan (ronde) lagi," kisah Paiyem.

BERITA JOGJA – Presiden ke-2 RI, Alm. Soeharto memang dikenal suka dengan masakan dan sajian minuman tradisional. Ronde satu dari sekian santapan favorit Soeharto ketika mengunjungi Jogjakarta. Ronde juga kerap jadi suguhan Suharto ke tamu-tamu negara ketika di Gedung Agung Jogjakarta.

Soeharto tak sembarang pesan ronde. Lidahnya sudah cocok dengan kehangatan ronde buatan Paiyem Karsowiyono di daerah Kampung Kauman. Ketika dinas ke Jogja, Soeharto selalu mengirim ajudannya ke tempat jualan Paiyem agar membeli ronde dalam jumlah banyak yang lalu disuguhkannya ke tamu-tamu negara. Paiyem ingat betul ketika pertama kali didatangi ajudan Soeharto kala itu.

Painem sedang meracik Ronde dagangannya (Foto: Cahyo)

Painem sedang meracik Ronde dagangannya (Foto: Cahyo)

Perempuan 85 tahun itu kaget bukan main dengan pesanan ajudan Soeharto itu. “Apa iya Presiden kok makannya ronde. Tapi ternyata benar. Alhamdulillah rezeki. Dan sejak itu kalau Pak Harto ke sini (Jogja) selalu ajudan yang datang lalu memesan. Nanti saya racik (ronde) terus saya antar ke Gedung Agung. Terus yang menyuguhkan nanti dari petugas Gedung Agung,” ceritanya.

Tak hanya Soeharto yang kepincut racikan wedang ronde Paiyem. Adik Soeharto, Probosutedjo dan keluarga di Kemusuk, Bantul juga sering memesan wedang ronde Paiyen saat membuat acara. “Sampai sekarang anak Pak Probo dan keluarga Kemusuk masih sering memesan wedang ronde. Kalau anak Pak Harto gak pernah mesan lagi,” cerita Paiyem.

Paiyem pantas disebut peracik ronde legendaris Jogja. Dia belajar sendiri membuat racikan wedang ronde. Tak ada yang mengajari. Sejak kali pertama jualan pada 1946, dirinya mencari sendiri takaran yang pas untuk sebuah wedang ronde. Hingga kini racikan itu terus dipertahankannya. Selain Soeharto, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X juga cocok dengan racikannya. Ronde buatannya sering dihidangkan di acara-acara Kraton Jogja hingga saat ini.

70 tahun berjualan ronde, sudah tiga kali dia berpindah tempat. Pertama di Ngampilan, Pasar Ngasem, lalu kini di Kampung Kauman (depan toko optik Naufal). Biasanya dia membuka dagangannya sesudah adzan Isya berkumandang merdu dari Masjid Gede .”Dulu jualan wedang ronde harganya masih Rp 15. Sekarang harganya Rp5 ribu,” cerita Paiyem.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar