Sultan HB V

Kisah Sultan HB V Atasi Wabah Penyakit dengan Kain Pembungkus Kabah

Pusaka Kraton ini dipercaya memiliki sebuah kemampuan tolak bala.

BERITA JOGJA – Kraton Jogja menyimpan sebuah sebuah pusaka yang terbuat dari kain kiswah, kain bekas pembungkus kabah. Kain itu hadiah kekhalifahan Turki kepada Raden Patah, Sultan Demak, tanda hubungan baik antara Kerajaan Turki dengan Kerajaan Demak ketika itu. Paska runtuhnya Kerajaan Demak, kain kiswah yang berujud bendera berwarna ungu kehitaman itu kemudian diwariskan turun menurun dan hingga saat ini masih tersimpan di Kraton Jogja.

Sultan HB V

Istimewa

Kain Kiswah tersebut diberi nama Kanjeng Kyai (KK) Tunggul Wulung. Pusaka Kraton ini dipercaya memiliki sebuah kemampuan tolak bala. Bersama Kanjeng Kyai (KK) Pare Anom, sebuah bendera pusaka berwarna hijau dan bertuliskan kalimat Tauhid yang juga merupakan pemberian dari Kekhalifahan Turki, KK Tunggul Wulung jika diarak mengelilingi kota Jogja, wabah penyakit ataupun bencana akan hilang dan warga bisa selamat.

Mnegutip “Ensiklopedi Keris” karya Bambang Harsrinuksmo, pada tahun 1820 di wilayah Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat, terjangkit wabah penyakit Sampar (Pes). Ratusan orang mati karena terkena penyakit tersebut. Untuk mengatasi penyebaran penyakit Pes, maka Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) V memerintahkan seorang abdi dalemnya untuk mengkirab KK Tunggul Wulung mengelilingi benteng Kraton. Tak lama berselang, wabah penyakit Pes yang mengganas dan mematikan ratusan warga kemudian mereda.

Wabah Pes kembali muncul di tahun 1821. Wabah tersebut semakin menggila. Korbannya melebihi tahun 1820. Jumlah korban hingga ribuan jiwa. Sekali lagi KK Tunggul Wulung dikirab memutari benteng Kraton. Wabah Pes pun kemudian berangsur menghilang.

Untuk abdi dalem yang mengarak KK Tunggul Wulung dan KK Pare Anom pun dipilih khusus. Syaratnya minimal harus berpangkat Bupati dan sudah sepuh. Konon, ketika Jogja mengalami musibah gempa pada tahun 2006 silam, KK Tunggul Wulung dan KK Pare Anom diarak mengelilingi Kota Jogja. Kedua pusaka tersebut diarak dengan dimasukkan ke dalam mobil sehingga tak banyak warga dan abdi dalem yang mengetahui.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar